Dari sebuah desa di Batang, Jawa Tengah, lahirlah seorang anak yang kelak akan mengibarkan nama Indonesia di puncak prestasi olahraga panjat tebing dunia. Ia adalah Kiromal Katibin, atlet yang kini menduduki peringkat nomor satu dunia di nomor speed putra versi International Federation of Sport Climbing (IFSC).
Pada usia 24 tahun, Kiromal berhasil mengumpulkan total 4.255 poin dari rangkaian kejuaraan internasional yang diikutinya—mengungguli pemegang rekor waktu tercepat Olimpiade Paris 2024, Samuel Watson, yang berada di posisi kedua dengan 3.684 poin.
Awal Perjalanan: Dari Tebing Desa ke Panggung Dunia
Lahir pada 21 Agustus 2000, Kiromal tumbuh di lingkungan sederhana yang jauh dari gemerlap arena olahraga internasional. Minatnya pada panjat tebing mulai tumbuh sejak usia sembilan tahun, ketika ia mencoba memanjat dinding buatan di kampungnya. Dukungan keluarga dan pelatih lokal mendorongnya untuk mengikuti berbagai kejuaraan, hingga debutnya di Kejuaraan Nasional 2011 membuahkan medali di nomor lead.
Ketekunannya membuahkan hasil gemilang. Kiromal meraih medali emas di Kejurnas 2016 dan 2017, lalu menyabet emas dari nomor speed juniors pada Asian Youth Championships 2018. Keberhasilan ini menjadi titik awal perjalanannya di kompetisi internasional, di mana ia semakin dikenal berkat konsistensi dan kecepatannya.
Prestasi Gemilang di Arena Dunia
Lihat postingan ini di Instagram
Meski medali emas di kejuaraan dunia belum diraih, prestasi Kiromal sangat mengesankan. Ia dua kali meraih medali perak Piala Dunia Panjat Tebing pada 2021 dan 2022, serta medali perak di nomor speed relay pada Asian Games 2022 dan World Games 2022 di Birmingham, Inggris.
Puncak pencapaiannya datang pada 2 Juni 2025, saat ia mengibarkan Merah Putih di podium tertinggi dengan meraih medali emas di Piala Dunia IFSC Denver, Amerika Serikat.
Capaian ini bukan hanya memperkokoh posisinya sebagai pemanjat tercepat dunia, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan Indonesia di kancah olahraga global. Raihannya menginspirasi banyak anak muda untuk mengejar mimpi, tak peduli dari mana mereka berasal.
Persaingan Sehat di Tim Nasional
Kiromal tidak sendirian membawa nama Indonesia. Rekan setimnya, Veddriq Leonardo, peraih medali emas Olimpiade Paris 2024, juga menjadi bagian penting dari kejayaan panjat tebing tanah air, meski saat ini berada di peringkat 12 dunia dengan 1.640 poin. Sementara itu, Raharjati Nursamsa menempati peringkat delapan dunia dengan 2.310 poin.
Persaingan internal ini justru memacu Kiromal untuk terus meningkatkan performa. Baginya, keberadaan rekan-rekan kuat di tim adalah dorongan untuk selalu berada dalam kondisi terbaik.
Mengejar Emas Olimpiade
Meski telah menjadi nomor satu dunia, Kiromal tidak berhenti berlatih. Target besarnya kini adalah meraih medali emas di Olimpiade dan mengukir rekor dunia baru di nomor speed. Ajang terdekat yang menjadi fokusnya adalah World Games 2025 di Chengdu, China, pada 7–17 Agustus, di mana ia bertekad mempertahankan supremasinya.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Perjalanan Kiromal Katibin adalah kisah tentang kerja keras, disiplin, dan mimpi besar. Dari anak desa yang hanya memanjat dinding sederhana, ia kini menjadi ikon olahraga panjat tebing dunia. Tekadnya untuk terus berprestasi mengajarkan bahwa batasan hanyalah ilusi bagi mereka yang mau berjuang.
“Bagi saya, setiap detik di dinding tebing adalah perjuangan. Saya ingin membuktikan bahwa anak Indonesia bisa menjadi yang terbaik di dunia,” ujarnya dalam salah satu wawancara.

