Panitia penyelenggara SEA Games 2025 Thailand resmi mengumumkan empat cabang olahraga (cabor) eksebisi yang akan dipertandingkan pada ajang dua tahunan tersebut. Empat cabor tersebut adalah Tarik Tambang (Tug of War), Air Sports, Flying Disc, dan Mixed Martial Arts (MMA). Meski tidak berpengaruh pada klasemen medali, kehadiran cabor eksebisi selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi publik dan kontingen peserta.
Cabor eksebisi diposisikan sebagai ajang perkenalan sekaligus uji coba bagi olahraga-olahraga yang tengah berkembang pesat di kawasan Asia Tenggara. Panitia menyebut keempat cabor tersebut dipilih karena memiliki federasi internasional yang aktif serta potensi besar untuk masuk ke kejuaraan multievent tingkat dunia.
Indonesia memastikan diri akan mengirim atlet pada seluruh cabor eksebisi tersebut. Keikutsertaan ini dinilai sebagai peluang penting untuk menambah jam terbang serta memperluas cabang olahraga yang digarap secara serius oleh tanah air.
Tarik Tambang: Olahraga Klasik dengan Format Profesional
Cabor Tarik Tambang (Tug of War) menjadi yang paling menyedot perhatian. Bukan hanya karena dekat dengan budaya masyarakat Asia, tetapi juga karena olahraga ini pernah dipertandingkan dalam Olimpiade 1900–1920.
Di bawah naungan The Tug of War International Federation (TWIF), tarik tambang kini dikemas secara profesional. Setiap tim beranggotakan 4–8 atlet yang saling tarik-menarik untuk melampaui garis tengah arena.
Pada SEA Games 2025, terdapat lima nomor yang akan dipertandingkan pada kategori ini, yakni beregu 8 putra, beregu 8 putri, beregu 4 putra, beregu 4 putri, beregu campuran (4 putra & 4 putri). Seluruh nomor berlangsung dengan format best of three. Kontingen Indonesia akan diperkuat sejumlah atlet dari Provinsi Papua, daerah yang dikenal melahirkan atlet-atlet dengan kekuatan fisik prima.
Selain tarik tambang, cabang olahraga Air Sports akan menampilkan dua nomor utama, yakni Paragliding (Paralayang) dan Paramotor (Power Paragliding). Kedua olahraga udara ini menuntut keterampilan mengendalikan parasut serta kemampuan membaca arah angin.
Paralayang mempertandingkan ketepatan mendarat dan ketangkasan terbang tanpa mesin. Sementara paramotor menggunakan mesin khusus yang memungkinkan atlet lepas landas dari permukaan datar.
Sebagai salah satu negara yang kerap menjuarai ajang paralayang internasional, Indonesia memiliki peluang besar mencetak prestasi di nomor ini meski statusnya masih eksebisi.
Flying Disc: Dari Rekreasi Menjadi Olahraga Kompetitif
Flying Disc yang dikenal luas dengan sebutan frisbee berkembang menjadi olahraga resmi dengan dua nomor pertandingan, yakni Disc Golf dan Ultimate. Disc Golf dimainkan dengan melempar cakram menuju target khusus, mirip konsep golf namun menggunakan cakram terbang. Sementara ultimate, sebaliknya, mengandalkan kerja sama tim dan strategi. Dua tim berusaha memasukkan cakram ke area akhir lawan untuk mencetak poin.
Popularitas Flying Disc meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan komunitas olahraga rekreasi. Kehadirannya sebagai cabor eksebisi diprediksi menjadi salah satu magnet penonton karena sifatnya yang dinamis dan mudah dipahami.
Selain itu, salah satu cabor yang diprediksi mendapat perhatian besar adalah Mixed Martial Arts (MMA). Olahraga bela diri campuran ini mencuri perhatian dunia berkat kehadiran berbagai kompetisi profesional global.
Di SEA Games 2025, MMA akan mempertandingkan dua kategori, yakni tradisional dan modern. Total terdapat enam nomor, yakni MMA tradisional 56 kg putra, MMA tradisional 54 kg putri, MMA modern 60 kg putra, MMA modern 60 kg putri, MMA modern 54 kg putri dan MMA modern 60 kg putri.
Indonesia mengirim enam atlet untuk bertanding pada nomor-nomor tersebut. Mereka diharapkan menambah pengalaman internasional, sekaligus mengukur kualitas atlet bela diri Indonesia di tingkat Asia Tenggara.

