Sejarah Olahraga Badminton Jianzi (毽子), juga dikenal sebagai ti jianzi (踢毽子, berarti “menendang shuttlecock”) atau jianqiu (毽球), adalah permainan tradisional Asia di mana pemain menjaga shuttlecock berbobot tetap melayang di udara menggunakan kaki dan bagian tubuh lainnya—kecuali tangan. Permainan ini mirip dengan peteca atau indiaca, namun berbeda dalam teknik dan budaya.
Asal Usul Jianzi
Akar dari permainan ini dapat ditelusuri hingga abad ke-5 SM di Tiongkok. Kata jianzi sendiri berarti “shuttlecock kecil”, sementara awalan ti berarti “menendang”. Permainan ini diyakini berevolusi dari Cuju (蹴鞠), sebuah permainan bola mirip sepak bola yang digunakan oleh militer Tiongkok sebagai metode latihan fisik dan strategi.
Beberapa jenderal terkenal dalam sejarah Tiongkok menggunakan jianzi sebagai cara menyegarkan pikiran dan melatih ketangkasan pasukan mereka. Sejak era Dinasti Han (206 SM – 220 M), permainan ini telah dikenal luas dan semakin populer pada masa Dinasti Sui dan Tang.
Perkembangan Modern
Transformasi modern olahraga ini dimulai pada tahun 1933, ketika kompetisi nasional pertama diadakan di Nanjing dalam Pekan Olahraga Nasional ke-5 Tiongkok. Pada tahun 1961, sebuah film dokumenter berjudul The Flying Feather dirilis dan memenangkan medali emas di festival film internasional.
Shuttlecock resmi diakui sebagai olahraga nasional di Tiongkok pada tahun 1984. Di tahun yang sama, penggemar olahraga ini membentuk Amateur Union of Shuttlecock di Hong Kong, yang kemudian menjadi Hong Kong Association of Shuttlecock (HKSA) pada 1994.
Shuttlecock mulai dikenal di Eropa setelah atlet dari Jiangsu, Tiongkok, memperagakan permainan ini di Olimpiade Berlin 1936. Reaksi positif dari negara-negara Eropa memicu penyebaran olahraga ini di benua tersebut.
Pada tahun 1999, Federasi Shuttlecock Internasional (International Shuttlecock Federation/ISF) resmi berdiri, menyelenggarakan kejuaraan dunia tahunan sejak saat itu. Olahraga ini juga dimasukkan ke dalam SEA Games pada tahun 2003. Sejarah Olahraga Badminton
Jerman: Peter von Rüden dan Awal Perjalanan Eropa
Cerita Eropa dimulai di sebuah taman di Tiongkok. Seorang insinyur asal Jerman bernama Peter von Rüden menyaksikan sejumlah orang—bahkan yang sudah berusia lanjut—bermain dengan sebuah bola bulu menggunakan kaki mereka. Ia terpukau oleh kelincahan dan keseruan permainan itu. Sebuah bola bulu diberikan padanya sebagai kenang-kenangan. Sekembalinya ke Jerman, ia memperkenalkan permainan ini pada teman-temannya dan tak pernah menoleh ke belakang.
Pada 1 September 1991, ia mendirikan FFC Hagen, klub shuttlecock pertama di Eropa. Tak hanya mendirikan klub, Peter juga menggelar German Open pertama pada 25–26 November 1994, yang diikuti tim-tim dari Hongaria. Berkat kegigihannya, shuttlecock mulai dikenal di Belgia, Denmark, Belanda, Finlandia, Swiss, Irlandia, dan tentu saja Hongaria.
Hongaria: Dari Pertunjukan Menjadi Federasi Nasional
Awal tahun 1992, Peter mengadakan demonstrasi shuttlecock di pameran pariwisata Travel ’92. Seorang guru olahraga bernama Butor Klára yang juga merupakan direktur program di Asosiasi Pelopor Hongaria melihatnya dan jatuh hati pada permainan tersebut. Ia membeli sejumlah bola dan mulai memperkenalkannya kepada para pelajar.
Tanggal 29 Mei 1993 digelar kompetisi shuttlecock pertama di Hongaria. Dua tahun kemudian, tepatnya 11 Maret 1995, lahirlah Asosiasi Shuttlecock Hongaria (MLTSZ) di kota Újszász. Butor Klára diangkat sebagai presiden pendiri, dan Fehér János sebagai sekretaris jenderal. Sejak 1996, MLTSZ rutin mengadakan Hungarian Open, dan sejak tahun 2000, olahraga ini juga dipertandingkan dalam Olimpiade Pelajar Hongaria.
Yunani: Dari Latihan Kungfu ke Kompetisi Nasional
Di Yunani, shuttlecock diperkenalkan lewat jalur tak terduga. Jordan Stavridis, seorang pelatih seni bela diri Tiongkok yang lulus dari Akademi Gymnastik di Luoyang, menggunakan feather ball sebagai latihan dasar bagi murid-muridnya sejak 1986. Menurutnya, permainan ini sangat membantu meningkatkan refleks, konsentrasi, dan kecepatan.
Barulah pada 2002, Federasi Shuttlecock Yunani dibentuk. Yunani menjadi anggota resmi Federasi Shuttlecock Internasional (ISF) dan menggelar kompetisi nasional pertamanya pada 18 April 2004.
Prancis: “Da Cau” dan Semangat Vietnam di Tanah Eropa
Perjalanan shuttlecock di Prancis dimulai pada 2002 melalui rasa ingin tahu Guillaume Destot, yang diajari mertuanya—keturunan Vietnam—cara membuat shuttlecock dari bulu merpati dan potongan botol plastik. Bersama teman-temannya, ia mendirikan klub pertama dan menjalin hubungan dengan komunitas Vietnam di Prancis.
Tak lama kemudian, Peter von Rüden dan rekan-rekannya dari Jerman datang ke Prancis untuk memberikan pelatihan teknik. Hasilnya luar biasa—hanya beberapa bulan setelah berlatih, tim Prancis langsung berpartisipasi dalam Kejuaraan Dunia 2002 di Hagen.
Para pelopor olahraga ini di Prancis, seperti Kim-Da Destot-Vong, Yohan Vinchon, Guillaume Odin, dan lainnya, memilih istilah “da cau” sebagai bentuk penghormatan kepada komunitas Vietnam yang mengenalkan olahraga ini kepada mereka.
Namun tak banyak yang tahu bahwa di Prancis Selatan, sebenarnya sudah ada klub lain sejak 1993. Klub ini didirikan oleh François Nguyen dan putranya Anthony. Mereka menyebut olahraga ini “plumfoot”. Dua komunitas ini akhirnya bertemu lewat internet dan membentuk France Plumfoot pada 2008—menyatukan semangat mereka untuk mempopulerkan olahraga ini di Prancis.

