Malaysia: Sepak Takraw, Warisan Diraja
Di Malaysia, permainan ini dikenal sebagai Sepak Takraw, yang diperkenalkan oleh keluarga kerajaan sekitar 500 tahun lalu. Namanya unik karena berasal dari dua bahasa: sepak dalam bahasa Melayu berarti “tendang”, dan takraw dari bahasa Thai yang berarti “bola”.
Sebelum populer sebagai olahraga net modern, permainan ini disebut Sepak Bulu Ayam, mengacu pada shuttlecock berbulu ayam yang digunakan. Warisan ini kini telah berkembang menjadi olahraga internasional dengan teknik dan aturan kompetitif.
Vietnam: Da Cau, Olahraga Nasional
Di Vietnam, shuttlecock disebut Da Cau dan telah menjadi olahraga nasional. Permainan ini tidak hanya populer di jalanan Hanoi, tetapi juga tercatat dalam sejarah sebagai bagian dari budaya istana sejak abad ke-11. Bahkan, ukiran para pemain shuttlecock ditemukan pada kuil-kuil abad ke-17.
Setelah sempat terabaikan selama era 1950–1970-an, permainan ini bangkit kembali berkat usaha seorang dokter anak bernama Dr. Nguyen Khac Vien pada tahun 1975. Ia mempromosikan kembali Da Cau sebagai aktivitas sehat untuk anak-anak dan menginisiasi produksi shuttlecock murah agar semua lapisan masyarakat bisa bermain.
Jepang: Kemari, Permainan Klasik yang Mengasah Jiwa
Di Jepang, seni menendang bola disebut Kemari, yang berarti “menendang bola dengan kaki”. Permainan ini dibawa dari Tiongkok sekitar abad ke-7 dan dengan cepat diterima masyarakat lintas kelas sosial.
Meskipun hanya sedikit referensi yang menyebut kemunculan shuttlecock footplay di Jepang, salah satunya tercatat dalam buku Games of the World (1975) karya Frederic V. Grunfeld. Disebutkan bahwa permainan ini pernah menjadi bagian dari pelatihan militer, karena dipercaya dapat meningkatkan ketangkasan para prajurit.
Korea: Jeigi-chagi, Permainan Musim Dingin yang Penuh Warna
Di Korea, permainan ini dikenal sebagai Jeigi atau Jeigi-chagi. Permainan ini sangat populer, terutama di musim dingin, dan menjadi bagian dari budaya masa kecil banyak orang Korea. Jeigi tradisional dibuat dari kertas putih tebal yang dililitkan pada koin sebagai pemberat, kemudian ujungnya dipotong seperti bulu.
Meski kini lebih banyak dimainkan oleh anak-anak, semangat Jeigi-chagi tetap hidup. Banyak festival budaya Korea masih menyelipkan permainan ini sebagai atraksi nostalgia.
Indonesia: Bola Bulu Tangkis, Warisan dari Abad ke-10
Di Indonesia, permainan shuttlecock dikenal sebagai Bola Bulu Tangkis. Meski namanya kini lebih dikenal sebagai olahraga raket, sejarah mencatat bahwa permainan menendang shuttlecock telah ada sejak abad ke-10. Permainan ini berkembang di berbagai wilayah dengan nama dan gaya lokal, serta menjadi hiburan rakyat yang mencerminkan kegembiraan bersama.
Filipina: Larong Sipa, Permainan Tradisional Penuh Gaya
Di Filipina, permainan ini disebut Larong Sipa dan telah dimainkan selama berabad-abad oleh semua kalangan, dari anak-anak hingga orang tua. Terdapat tiga kategori dalam Sipa: kategori perempuan yang mengharuskan tendangan menggunakan sisi luar kaki, kategori laki-laki dengan tendangan dari sisi dalam, dan kategori tim yang memperbolehkan kombinasi keduanya. Tujuan utamanya: menjaga agar featherball tidak jatuh ke tanah sebanyak mungkin.
Makau: Chiquia, Permainan yang Hidup dalam Kenangan
Di bekas koloni Portugis ini, permainan shuttlecock dikenal sebagai Chiquia. Meski kini jarang terlihat dimainkan, permainan ini pernah begitu populer. Bahkan, pada 31 Juli 1989, Makau menerbitkan prangko bergambar chiquia dan empat pria yang sedang bermain, menjadi simbol bahwa budaya ini tak pernah benar-benar lenyap.
Singapura: Chapteh, Permainan Keseimbangan yang Abadi
Di Singapura, permainan shuttlecock dikenal dengan nama chapteh. Permainan ini telah dimainkan selama berabad-abad dan masih populer hingga kini, terutama di kalangan anak-anak. Berbeda dari permainan serupa di negara lain, chapteh dimainkan tanpa jaring. Para pemain membentuk lingkaran dan secara bergiliran menendang chapteh agar tetap melayang di udara. Ketika ada yang gagal menendang dan chapteh jatuh ke tanah, pemain tersebut harus keluar dari lingkaran.
Permainan berlanjut hingga tersisa dua pemain terakhir. Keduanya lalu saling berhadapan dalam duel seru untuk mempertahankan chapteh di udara selama mungkin. Siapa yang paling lama bertahan, dialah pemenangnya.
Keunikan budaya ini begitu penting bagi identitas lokal, sehingga pada 21 Februari 1997, Kantor Pos Singapura menerbitkan satu set prangko bertema permainan tradisional. Salah satu prangko bernilai 22 sen menampilkan ilustrasi anak lelaki yang sedang menendang chapteh—simbol bahwa warisan ini masih hidup di tengah modernitas.

