Bayangkan seseorang berlari vertikal ke atas tembok setinggi 15 meter, menyelesaikannya dalam waktu lima detik. Bukan adegan film superhero. Itu adalah sport climbing, cabang olahraga penuh kecepatan, kekuatan, dan konsentrasi tinggi yang kini bersinar di pentas Olimpiade.
Meski terdengar seperti fenomena baru, akar dari sport climbing telah ada sejak akhir abad ke-19. Saat itu, memanjat tebing masih menjadi kegiatan rekreasi di alam terbuka. Namun, segalanya berubah pada tahun 1985 di Bardonecchia, Italia, saat digelar kompetisi SportRoccia. sebuah titik awal lahirnya panjat tebing sebagai olahraga kompetitif.
Satu tahun kemudian, dinding panjat buatan pertama digunakan di Prancis. Tak butuh waktu lama hingga dunia mengenalnya secara global. Tahun 1991, Kejuaraan Dunia pertama digelar di Frankfurt, Jerman. Inilah babak baru untuk olahraga yang kini dikenal sebagai sport climbing dan sejak saat itu, popularitasnya meroket.
Dalam sport climbing, ada tiga disiplin utama, yakni bouldering, lead, dan speed. Masing-masing menguji kemampuan fisik dan mental secara berbeda. Dalam bouldering, pemanjat menghadapi dinding setinggi 4,5 meter tanpa tali, dan harus menyelesaikan rute atau “problem” dalam waktu dan jumlah percobaan terbatas. Disini, taktik dan kreativitas sangat krusial.
Kedua ada lead climbing, dimana atlet memanjat dinding lebih dari 15 meter menggunakan tali pengaman. Tantangannya? Mereka belum pernah melihat rute sebelumnya, dan hanya diberi waktu 6 menit untuk naik setinggi mungkin. Kekuatan, strategi, dan stamina diuji habis-habisan. Selain itu ada speed climbing.
Ini merupakan disiplin paling eksplosif dan dramatis. Dua atlet berlomba secara langsung memanjat dinding identik setinggi 15 meter dengan kemiringan lima derajat. Yang tercepat menang. Di sinilah rekor dunia terus dipatahkan.
Sport Climbing di Olimpiade
Debut sport climbing di Olimpiade dimulai di Youth Olympic Games Buenos Aires 2018, lalu resmi masuk sebagai cabang Olimpiade di Tokyo 2020. Format gabungan bouldering, lead, dan speed memicu tantangan ekstra.
Namun, di Paris 2024, formatnya berubah menjadi lebih spesifik, yakni satu medali untuk speed climbing, kombinasi boulder dan lead. Perubahan ini disambut positif karena memberikan ruang bagi spesialis di masing-masing disiplin. Dan kabar baiknya, sport climbing sudah dipastikan kembali di Los Angeles 2028.

