Sepak takraw menjadi salah satu cabang olahraga yang menarik perhatian publik saat Asian Games. Selain aksi akrobatik dan kecepatan permainan, ada satu kebiasaan unik yang kerap terlihat di lapangan: para atlet selalu saling menggenggam tangan setiap kali poin tercipta, baik saat mencetak angka maupun ketika kehilangan poin.
Momen tersebut dilakukan oleh para pemain yang umumnya berjumlah tiga hingga empat orang dalam satu tim. Mereka bergandengan tangan lalu mengayunkannya bersama-sama ke atas dan ke bawah, menciptakan simbol kebersamaan di tengah tensi pertandingan.
Pelatih tim nasional sepak takraw Indonesia, Asry Syam, menjelaskan bahwa gestur tersebut bukan sekadar selebrasi, melainkan cara sederhana untuk menjaga kekompakan tim. Menurutnya, sepak takraw menuntut kesatuan emosi dan fokus yang kuat di antara para pemain.
“Itu bentuk selebrasi untuk menyatukan hati. Dalam satu tim ada beberapa orang, tetapi di lapangan mereka harus punya satu tujuan. Tidak boleh saling menyalahkan,” ujar Asry.
Ia menambahkan, kebiasaan bergandengan tangan tersebut lahir dari kultur permainan sepak takraw yang berkembang secara alami. Tidak ada aturan resmi yang mewajibkan atlet melakukan hal tersebut, namun tradisi itu perlahan menjadi bagian dari dinamika pertandingan.
“Tanpa melakukan itu pun sebenarnya tidak ada masalah. Ini lebih ke kebiasaan. Dengan bersentuhan, muncul pesan nonverbal bahwa kami berjuang bersama,” kata Asry.
Dalam olahraga yang menuntut koordinasi tinggi seperti sepak takraw, kekompakan menjadi kunci utama. Sentuhan singkat tersebut diyakini mampu meredam emosi, menjaga komunikasi, dan mengembalikan fokus tim sebelum rally berikutnya dimulai.
Kebiasaan sederhana ini pun menjadi ciri khas yang membedakan sepak takraw dari cabang olahraga beregu lainnya, sekaligus memperlihatkan bahwa solidaritas dan kebersamaan sering kali menjadi kekuatan utama di balik performa atlet di arena internasional.

