Olahraga untuk mendaki gunung. Aktivitas hiking semakin diminati masyarakat Indonesia, tidak hanya sebagai rekreasi alam, tetapi juga sebagai tren gaya hidup sehat. Meski terlihat sederhana, hiking membutuhkan kondisi fisik yang prima, terutama bagi mereka yang menempuh jalur berbukit, menanjak, atau berada di ketinggian.
Untuk memaksimalkan performa sekaligus meminimalkan risiko cedera, tentunya butuh latihan fisik sebelum melakukan hiking. Berikut lima latihan efektif sebagai persiapan hiking. Latihan ini tidak hanya meningkatkan kekuatan otot, tetapi juga stamina, keseimbangan, dan stabilitas tubuh selama berada di medan yang tidak rata.
1. Squat
Squat dinilai sebagai latihan dasar yang paling penting untuk para pendaki. Gerakan ini melatih otot paha depan, paha belakang, glutes, pinggul, dan betis, seluruh bagian tubuh yang bekerja paling keras saat mendaki tanjakan.
Manfaat squat untuk hiking:
-
Meningkatkan kekuatan dorong saat menaiki bukit.
-
Menambah stabilitas lutut ketika menuruni jalur curam.
ADVERTISEMENT -
Membantu mencegah cedera otot kaki akibat beban tas.
2. Lunges
Berbeda dengan squat yang melatih kekuatan, lunges berfungsi meningkatkan keseimbangan dan koordinasi tubuh, dua kemampuan yang sangat dibutuhkan ketika melintasi akar pohon, bebatuan, atau tanah licin.
Gerakan lunges melatih otot inti (core), panggul, paha depan, dan betis secara bersamaan. Saat melakukan lunges, tubuh akan belajar menahan beban pada satu kaki, mirip dengan kondisi ketika melangkah di medan yang tidak rata.
Keunggulan lunges untuk pendaki:
-
Memperkuat otot stabilisator lutut.
-
Membantu menjaga postur tubuh saat membawa carrier atau daypack.
-
Mengurangi risiko tergelincir di jalur menurun.
3. Plank
Hiking bukan hanya soal kekuatan kaki. Kekuatan inti tubuh atau core sangat penting agar pendaki mampu menjaga stabilitas dan postur tubuh saat berjalan, terutama saat membawa beban berat. Plank menjadi latihan terbaik untuk membangun kekuatan core tanpa membebani tulang belakang.
Manfaat plank bagi pendaki:
-
Mencegah sakit pinggang saat mendaki.
-
Membantu mempertahankan postur tubuh tetap tegak.
-
Mengurangi risiko kelelahan di bagian pinggul dan perut.
4. Step-Up
Jika ada latihan yang paling mirip dengan gerakan hiking sesungguhnya, maka step-up adalah jawabannya. Menggunakan bangku datar atau pijakan setinggi lutut, gerakan step-up mensimulasikan langkah menaiki batu atau akar pohon di jalur pendakian.
Manfaat step-up untuk hiking:
-
Meningkatkan kekuatan quadriceps dan glutes.
-
Memberikan latihan stamina jangka panjang.
-
Melatih keseimbangan sekaligus koordinasi.
5. Cardio Training
Tidak ada latihan yang lebih penting bagi pendaki selain melatih paru-paru dan jantung. Cardio training, seperti jogging, bersepeda, berenang, atau treadmill incline, membantu peningkatan kapasitas oksigen sekaligus kestabilan detak jantung.
Cardio juga membuat pendaki tidak cepat lelah saat mendaki jalur panjang.
Jenis cardio yang direkomendasikan:
-
Jogging 20–30 menit sebanyak 3 kali seminggu.
-
Bersepeda 10–15 km untuk melatih daya tahan kaki.
-
Latihan treadmill menanjak untuk simulasi jalur gunung.
-
Skipping selama 5–10 menit untuk variasi.

