Tradisi guard of honor—atau barisan penghormatan untuk tim juara—mungkin sudah jadi pemandangan biasa di sepak bola modern. Pemain lawan berbaris, memberi tepuk tangan, lalu membiarkan rival mereka berjalan masuk lapangan dengan kepala tegak. Tapi, pernahkah kamu bertanya kapan tradisi ini pertama kali muncul?
Jawabannya ada di Inggris, tepatnya musim 1954/55. Saat itu kompetisi kasta tertinggi di Negeri Ratu Elizabeth masih bernama First Division—jauh sebelum Premier League lahir pada 1992. Persaingan musim itu cukup ketat. Chelsea akhirnya keluar sebagai juara dengan 52 poin, unggul tipis dari Wolverhampton Wanderers, Portsmouth, dan Sunderland yang sama-sama mengoleksi 48 poin.
Dengan satu laga tersisa, Chelsea sudah memastikan gelar. Nah, ketika mereka bertandang ke Old Trafford melawan Manchester United di partai terakhir, sesuatu yang istimewa terjadi: para pemain Setan Merah membuat barisan penghormatan untuk sang juara baru. Konon, ide ini datang langsung dari manajer legendaris United, Sir Matt Busby. Sejak saat itu, tradisi ini perlahan menyebar, menjadi budaya sepak bola Inggris, lalu merambah ke seluruh Eropa.
Apakah Guard of Honor Wajib?
Jawaban singkatnya: tidak. Tidak ada aturan resmi dari liga-liga besar Eropa yang mewajibkan tim melakukan guard of honor. Namun, di Premier League misalnya, tradisi ini sudah mengakar. Menolak melakukannya bisa dianggap tidak sportif—meski tentu ada pengecualian.
Contohnya, saat Celtic meraih gelar Liga Skotlandia musim 2024/25, rival abadinya, Rangers, memilih tidak ikut bertepuk tangan. Fans pasti bisa menebak alasannya: rivalitas Old Firm terlalu panas untuk sekadar basa-basi. Hal yang sama berlaku di Spanyol. Real Madrid dan Barcelona hampir mustahil saling memberi penghormatan di El Clasico. Rivalitas terlalu besar untuk ditutup dengan senyum.
Di luar kasus rival abadi, guard of honor lebih sering diterima sebagai simbol respek. Bahkan, pelatih Arsenal Mikel Arteta pernah berkata jelang laga melawan Liverpool: “Mereka pantas mendapatkannya. Mereka lebih baik… dan ketika ada yang lebih baik, kita harus menghormati itu.”
Klub yang Paling Sering Menerima Guard of Honor
Sejak era Premier League dimulai pada 1992, Manchester United adalah penguasa gelar. Di bawah Sir Alex Ferguson, mereka meraih 13 trofi liga hanya dalam dua dekade. Tak heran, mereka beberapa kali mendapat guard of honor.
Namun, Liverpool yang justru memegang rekor paling unik. Gelar musim 2019/20 mereka diamankan tujuh pertandingan sebelum liga berakhir. Hasilnya? Tujuh klub lawan harus membuat barisan penghormatan, termasuk Manchester City, Arsenal, hingga Chelsea. Rekor ini belum tersentuh sampai sekarang.
Menariknya, Chelsea malah menjadi klub yang paling sering dipaksa memberikan guard of honor untuk tim lain. Mulai dari Leicester City (2016), Liverpool (2020), Manchester City (2023), sampai Liverpool lagi (2025). Sebuah ironi, mengingat Chelsea sendiri hampir selalu jadi pesaing utama gelar.
Lebih dari Sekadar Formalitas
Guard of honor pada akhirnya bukan soal kewajiban, tapi simbol. Simbol bahwa, di atas panasnya persaingan, ada penghormatan terhadap tim yang berhasil menjadi yang terbaik. Mungkin terlihat sederhana: hanya berbaris dan bertepuk tangan. Tapi bagi tim juara, momen ini adalah pengakuan resmi dari rival mereka.
Musim-musim ke depan, tradisi ini sepertinya akan terus berlanjut—entah di Inggris, Spanyol, atau liga lainnya. Pertanyaannya, siapa yang akan jadi tim berikutnya berjalan melewati koridor tepuk tangan itu?

