Dalam pertandingan sepak bola, kita sering melihat momen ketika penjaga gawang menangkap bola di udara lalu tiba-tiba terjatuh sambil berguling-guling seolah kesakitan. Adegan ini kerap menimbulkan pertanyaan: apakah itu cedera sungguhan atau hanya akal-akalan?
Sepak bola idealnya dimainkan dengan semangat fair play, namun tekanan untuk menang membuat sebagian pemain rela melakukan berbagai cara untuk mengamankan hasil pertandingan. Salah satu trik yang paling sering terlihat adalah memalsukan cedera — dan penjaga gawang menjadi salah satu aktor utamanya, terutama di menit-menit krusial.
Cedera Sungguhan atau Sekadar Mengulur Waktu?
Bagi kiper, menjatuhkan diri setelah menangkap bola memiliki sejumlah tujuan strategis. Alasan paling umum adalah untuk mengulur waktu. Ketika pertandingan memasuki fase akhir dan tim sedang unggul atau berusaha mempertahankan skor imbang, setiap detik sangat berarti.
Dengan berpura-pura kesakitan, waktu berjalan tanpa tekanan dari lawan, sementara wasit hampir pasti akan menghentikan pertandingan jika kiper berada di tanah. Situasi itu memberi kesempatan bagi rekan satu tim untuk bernapas, mengatur ulang organisasi permainan, atau sekadar memutus momentum serangan lawan.
Namun tidak semua aksi jatuh itu murni tipu daya. Dalam beberapa situasi, kontak kecil dapat benar-benar menyebabkan rasa sakit, terutama jika terjadi ketika pemain lawan sedang berada dalam kecepatan tinggi. Dalam duel udara, benturan kecil di rusuk, dada, atau lengan bisa cukup membuat kiper terjatuh dan membutuhkan waktu beberapa detik untuk pulih.
Ketika “Pura-Pura” Menjadi Bagian dari Strategi
Ada pula situasi unik ketika berpura-pura cedera dilakukan bukan untuk keuntungan taktis dalam arti konvensional, melainkan demi kebutuhan tim secara keseluruhan.
Salah satu contoh paling terkenal terjadi pada Ramadan 2018 ketika kiper Tunisia, Mouez Hassen, diarahkan oleh pelatih Nabil Maaloul untuk pura-pura cedera agar pertandingan bisa dihentikan sejenak. Tujuannya: memberi kesempatan kepada para pemain dan staf untuk berbuka puasa.
Maaloul secara terbuka menjelaskan bahwa hal itu adalah bagian dari strategi:
“Itu jelas adalah strategi saya. Kami punya banyak pemain yang berpuasa, dan momen itu memberi waktu bagi mereka untuk berbuka,” ujarnya kepada BBC.
Pada pertandingan pertama, rencana ini sempat gagal karena Hassen belum memahami instruksi dengan benar. Begitu pula gelandang Yassine Meriah yang juga tidak menangkap maksud pelatih. Namun di pertandingan berikutnya, strategi itu berjalan lancar setelah dijelaskan sebelumnya kepada seluruh tim.
Aksi Hassen kemudian menjadi perbincangan luas di media sosial. Pesepakbola Chaker Alhadhur menggoda sang kiper dengan berkata:
“Sekarang jujur saja, kamu pasti berpura-pura!”
Hassen Kiper Sering Menjatuhkan Diri membalas santai di Twitter:
“Saya memang cedera, bro,” lengkap dengan emoji tertawa.

