Meski dihuni oleh banyak pemain kelas dunia seperti Ousmane Dembélé, dan Jonathan David, kasta tertinggi sepak bola Prancis, yaitu Ligue 1, kerap mendapatkan sorotan miring dari luar negeri.
Dominasi Paris Saint-Germain (PSG) dalam beberapa musim terakhir membuat sebagian pihak menjuluki Ligue 1 sebagai “farmer’s league“—sebutan sinis untuk liga yang dianggap minim persaingan atau kualitas.
Tak bisa dimungkiri, dalam satu dekade terakhir, PSG memang sangat sulit digoyang dari singgasana. Namun, kejutan tetap terjadi. Lille, dan sebelumnya AS Monaco—yang saat itu diperkuat Mbappe muda—berhasil mematahkan dominasi ibu kota dan membuktikan bahwa liga ini masih menyimpan tensi kompetitif.
Per musim 2023/2024, Ligue 1 diikuti oleh 18 tim, sama seperti Bundesliga di Jerman. Itu berarti setiap klub memainkan 34 pertandingan (dua kali bertemu, kandang dan tandang), sehingga total keseluruhan laga dalam satu musim Ligue 1 adalah 306 pertandingan.
Menariknya, sistem play-off degradasi/promosi juga diterapkan di Ligue 1. Tim yang finis di peringkat ke-16 klasemen akhir harus menjalani duel dua leg melawan tim peringkat ketiga dari Ligue 2. Pertandingan ini kerap menjadi drama emosional yang menegangkan, karena menyangkut nasib satu musim ke depan—bertahan di kasta elite atau turun kasta.
Di papan atas, Ligue 1 menghadapi tantangan lain: perbandingan kualitas dengan liga-liga besar Eropa seperti Premier League dan La Liga. Hal ini tercermin dari slot kompetisi Eropa: hanya dua tim teratas yang langsung lolos ke fase grup Liga Champions, sedangkan tim peringkat ketiga harus lebih dulu menjalani babak kualifikasi.
Meski kerap diremehkan, Ligue 1 tetap menjadi panggung lahirnya bintang-bintang besar, dan struktur kompetisinya memastikan bahwa setiap musim selalu ada cerita baru—entah itu dominasi PSG, kejutan dari Lille, atau pertarungan sengit di zona degradasi. Dengan 306 laga setiap musim, liga ini tak sekadar soal angka, tapi tentang pertaruhan gengsi sepak bola Prancis di panggung Eropa dan dunia.

