Musim baru di BRI Super League 2025/2026 menghadirkan wajah baru di kursi pelatih Bali United FC. Setelah berpisah dengan pelatih legendaris Stefano “Teco” Cugurra, manajemen Serdadu Tridatu menunjuk Johnny Jansen, pelatih asal Belanda berusia 50 tahun, sebagai nakhoda baru di Stadion Kapten I Wayan Dipta.
Sosok Jansen mungkin belum populer di telinga publik sepak bola Indonesia. Namun, di Eropa dan Timur Tengah, namanya sudah dikenal sebagai pelatih berkarakter pekerja keras, pembangun fondasi tim, dan pengembang bakat muda.
Perjalanan Karier Johnny Jansen
Johnny Jansen memulai kariernya di dunia sepak bola bukan sebagai pemain terkenal, tetapi justru sebagai pelatih yang meniti karier dari dasar. Ia mengawali langkah profesionalnya di akademi SC Heerenveen, salah satu klub Eredivisie di Belanda yang dikenal sebagai produsen bakat muda berkualitas.
Dalam rentang lebih dari satu dekade, Jansen naik level dari pelatih usia muda ke asisten tim utama, sebelum akhirnya dipercaya menjadi pelatih kepala Heerenveen pada 2019. Di bawah asuhannya, klub tersebut sempat beberapa kali mengancam zona Eropa, meskipun belum meraih gelar.
Setelah meninggalkan Heerenveen, ia sempat menangani PEC Zwolle dan klub asal Lebanon, Safa Sporting Club, sebelum menerima tawaran melatih dari Bali United pada pertengahan 2025.
Meski demikian, tak bisa dipungkiri, Jansen datang dengan beban ekspektasi tinggi. Ia menggantikan Teco, pelatih yang mempersembahkan dua gelar Liga 1 (2019 dan 2021) dan menjadikan Bali United sebagai salah satu kekuatan dominan di Indonesia.
Meski tidak membawa trofi dalam portofolionya, Jansen dikenal sebagai pelatih yang sangat disiplin dan memiliki kemampuan mengorganisasi tim secara kolektif. Karakter inilah yang diharapkan bisa menyuntikkan semangat baru bagi skuad Bali United yang mengalami transisi regenerasi.
Dukungan dari Asisten dan Pemain Asing
Demi menjalankan program kepelatihan dengan maksimal, Johnny Jansen tidak datang sendirian. Ia membawa dua asisten asal Belanda yang berpengalaman, yakni Ronnie Pander dan Jeffrey Dennis Talan. Kedua nama tersebut dikenal sebagai pelatih akademi dan analis taktik yang telah lama mendampingi Jansen di Eropa.
Keberadaan mereka diharapkan bisa mempercepat adaptasi pemain terhadap sistem baru serta meningkatkan performa pemain muda lokal seperti Kadek Arel, I Made Tito, dan Ngurah Gede.
Selain itu, Jansen juga aktif berdiskusi dengan pemain asing Bali United, seperti Jefferson Assis dan Eber Bessa. Hal itu diharapkan bisa menjadi jembatan antara strategi Eropa dan realitas kompetisi Indonesia.
Manajemen dan Jansen sepakat bahwa musim ini tidak harus ditutup dengan trofi. Target realistis yang dicanangkan adalah menembus posisi empat besar klasemen akhir. Posisi itu dianggap cukup sebagai tolok ukur keberhasilan fondasi yang dibangun pelatih anyar ini.
Menariknya, Johnny Jansen juga punya kisah inspiratif di balik kariernya. Sebagai mantan pemain sepak bola, ia harus mengakhiri karier lebih dini akibat penyakit diabetes yang dideritanya sejak usia muda. Namun, semangatnya terhadap sepak bola tidak padam.
Ia memilih jalur kepelatihan dan menjadi salah satu pelatih muda paling menjanjikan di Belanda kala itu. Keteguhan dan kedisiplinan yang ditanamkan Jansen menjadi nilai tambah yang kini ia bawa ke Bali United.
Babak Baru Serdadu Tridatu
Dengan hadirnya Johnny Jansen, Bali United resmi memasuki babak baru setelah era keemasan Teco. Gaya sepak bola modern, perhatian pada pengembangan pemain muda. Selain itu, pendekatan disiplin yang ditawarkan Jansen membuat musim ini layak untuk dinanti.
Apakah Johnny Jansen akan menjadi “Erik ten Hag”-nya Liga 1? Ataukah ia butuh lebih dari satu musim untuk menanamkan fondasi? Semua akan terjawab dalam perjalanan panjang BRI Super League 2025/2026.

