Indonesia dikenal sebagai salah satu tim kuat di olahraga woodball. Sejumlah atlet papan atas seperti Ahris Sumariyanto, Marga Nugraha, M. Indaka Pia, dan Ahmad Yopi menjadi tumpuan di sektor putra. Sementara di sektor putri, ada nama-nama seperti Siti Masithah, Finda Tri Setianingsih, Febriyanti, Celsy Silviana, dan Dwi Tiga Putri yang telah berprestasi di berbagai kejuaraan internasional.
Pengurus Besar Indonesia Woodball Association (IWbA) terus berupaya melakukan regenerasi agar prestasi Indonesia semakin gemilang. Apalagi, cabang olahraga ini akan resmi dipertandingkan di SEA Games 2025 Thailand—sebuah momentum penting bagi perkembangan woodball Tanah Air.
Mengenal Lebih Dekat Olahraga Woodball

Woodball merupakan cabang olahraga yang relatif baru. Olahraga ini lahir di Taiwan pada 1990, digagas oleh Ming Hui Weng, seorang atlet golf yang ingin menciptakan olahraga santai untuk orangtuanya. Sekilas mirip golf, namun woodball menggunakan bola dan tongkat kayu. Bola harus dipukul hingga melewati gate—semacam gawang mini—dengan jumlah pukulan sesedikit mungkin.
Arena permainan woodball disebut fairway dan terbagi menjadi tiga jenis: pendek, menengah, dan panjang. Dalam kejuaraan ini, digunakan lapangan berumput dengan 12 fairway yang menantang. Setiap pemain dituntut mengontrol kekuatan pukulan, membaca kontur lapangan, serta menjaga ketepatan arah bola agar tidak keluar lintasan (obey) yang bisa berakibat penalti.
Olahraga yang Menanamkan Nilai Sportivitas
Meski tampak sederhana, woodball sejatinya menuntut kesabaran, ketelitian, dan kejujuran. Dalam pertandingan, setiap pemain mencatat sendiri jumlah pukulan yang dilakukan, sementara wasit hanya mengawasi jalannya permainan. Nilai fair play dan saling menghormati menjadi bagian penting dari setiap laga.
Dari arena hijau Megamendung, para atlet belajar bahwa kemenangan sejati bukan hanya soal skor, melainkan tentang bagaimana mengendalikan diri, menjunjung kejujuran, dan bermain dengan hati.

