Keputusan Yamaha untuk meninggalkan mesin inline-4 dan beralih ke konfigurasi V4 di MotoGP 2026 menjadi salah satu langkah paling berani dalam sejarah modern balap motor. Setelah bertahun-tahun mempertahankan filosofi mesin yang dikenal halus dan stabil, pabrikan asal Jepang ini kini memilih jalur baru yang penuh risiko.
Langkah tersebut mendapat sorotan dari berbagai pihak, termasuk mantan petinggi tim MotoGP, Livio Suppo. Ia menilai bahwa keputusan Yamaha merupakan perjudian besar yang hasilnya belum tentu langsung terlihat dalam waktu dekat. Menurutnya, hanya waktu yang bisa membuktikan apakah strategi ini akan berhasil atau justru menjadi bumerang.
Sejak awal era MotoGP, Yamaha dikenal konsisten menggunakan mesin inline-4 pada motor andalannya, Yamaha YZR-M1. Mesin ini terkenal memiliki karakter yang ramah bagi pembalap, terutama dalam hal handling dan kestabilan di tikungan. Namun, dalam beberapa musim terakhir, performa Yamaha mulai tertinggal dari para rival seperti Ducati yang telah lebih dulu mengembangkan mesin V4 dengan hasil impresif.
Perubahan regulasi MotoGP yang akan mengadopsi mesin 850cc pada musim mendatang juga menjadi salah satu alasan utama Yamaha mengambil keputusan ini. Konfigurasi V4 dinilai lebih cocok dengan desain motor yang lebih ramping, terutama dengan pembatasan aerodinamika yang semakin ketat.
Yamaha Nekat Tinggalkan Inline-4, Mesin V4 Jadi Bumerang di MotoGP 2026?
Namun, transisi ini tidak berjalan mulus. Versi awal mesin V4 1000cc yang dikembangkan Yamaha belum menunjukkan performa yang kompetitif. Bahkan, hasil balapan musim ini terbilang mengecewakan. Motor baru tersebut belum mampu menembus posisi papan atas dalam balapan utama, membuat Yamaha terpuruk di klasemen konstruktor.
“Masalahnya adalah Yamaha telah memilih jalan yang sangat sulit, saya sudah mengkritik keputusan mereka dalam beberapa hal,” kata Suppo seperti di kutip dari Crash.
Situasi ini turut memengaruhi performa pembalap andalan mereka, Fabio Quartararo. Juara dunia MotoGP 2021 itu terlihat kesulitan beradaptasi dengan karakter motor baru. Meski sempat menunjukkan potensi di sesi kualifikasi, hasil balapan belum mencerminkan performa yang diharapkan. Bahkan, muncul rumor bahwa Quartararo mempertimbangkan hengkang ke tim lain pada musim 2027.
Tak hanya Quartararo, pembalap lain seperti Alex Rins dan Jack Miller juga mengalami kesulitan serupa. Sementara itu, nama Toprak Razgatlioglu yang baru bergabung juga masih beradaptasi dengan tuntutan MotoGP yang jauh lebih kompleks.
Livio Suppo menyoroti bahwa Yamaha saat ini menghadapi tantangan besar karena harus mengembangkan dua proyek sekaligus: mesin V4 1000cc untuk saat ini dan motor 850cc untuk masa depan. Menurutnya, hal ini berisiko membuat Yamaha tidak maksimal dalam kedua proyek tersebut.
Meski demikian, Suppo tetap memberikan apresiasi atas keberanian Yamaha. Ia menilai bahwa tidak banyak tim yang berani mengambil risiko sebesar ini demi masa depan. Yamaha sendiri tampaknya menyadari bahwa musim 2026 akan menjadi masa transisi yang sulit, dengan harapan bisa kembali kompetitif di tahun berikutnya.
Dalam dunia balap, keputusan besar sering kali membutuhkan waktu untuk membuahkan hasil. Yamaha kini berada di persimpangan jalan—antara kegagalan jangka pendek dan potensi kebangkitan di masa depan. Seperti yang dikatakan Suppo, pada akhirnya waktu yang akan menjawab apakah langkah berani ini adalah keputusan yang tepat.

