Dalam delapan hari ke depan, enam negara Asia akan berjuang memperebutkan dua tiket tersisa menuju Piala Dunia 2026. Namun, sebelum kompetisi dimulai, aroma kontroversi sudah tercium kuat.
Keputusan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menunjuk Arab Saudi dan Qatar sebagai tuan rumah mini-turnamen kualifikasi dianggap memberi keuntungan besar bagi kedua negara tersebut.
Keuntungan Tuan Rumah dan Protes Lawan
Arab Saudi dan Qatar ditetapkan menjadi tuan rumah pertandingan di dua mini-grup yang masing-masing akan menghasilkan satu tim lolos ke Piala Dunia. Keputusan ini diumumkan AFC pada Juni lalu tanpa penjelasan kriteria pemilihan.
Sejumlah negara peserta seperti Indonesia, Irak, Oman, dan Uni Emirat Arab (UEA) pun melayangkan protes. Mereka meminta kejelasan alasan pemilihan tuan rumah dan bahkan mengusulkan pertandingan digelar di tempat netral, namun tidak mendapat tanggapan dari AFC.
Selain itu, jadwal pertandingan dinilai tidak adil. Dua tuan rumah, Arab Saudi dan Qatar, memiliki jeda enam hari antara laga pertama dan kedua, sedangkan lawan-lawan mereka hanya memiliki waktu istirahat 72 jam. Situasi ini memunculkan tuduhan bahwa AFC tidak memperlakukan semua peserta dengan setara.
Suara Keras dari Carlos Queiroz
Pelatih Oman, Carlos Queiroz, menjadi sosok yang paling vokal menentang keputusan ini. Pria berusia 72 tahun itu sudah berpengalaman membawa Afrika Selatan, Portugal, dan Iran ke Piala Dunia, namun kali ini ia mengakui bahwa misi bersama Oman jauh lebih berat.
“Ini akan menjadi keajaiban di situasi yang serumit ini,” kata Queiroz kepada The Guardian. “Apakah tidak ada stadion di Jepang atau Kuwait tempat kami bisa bermain? Mungkin orang-orang yang mengatur ini memiliki pandangan berbeda tentang sepak bola.”
Rumor mengenai penunjukan Arab Saudi dan Qatar sudah beredar jauh sebelum pengumuman resmi AFC. Beberapa pejabat sepak bola Asia bahkan mengaku terkejut bahwa kedua negara tidak diminta bertukar tempat bermain — Arab Saudi di Qatar dan sebaliknya. Saat dimintai tanggapan, AFC memilih bungkam.
Queiroz menyebut situasi ini sebagai hal yang “tidak masuk akal”.
“Kami harus bermain di kandang pesaing kami. Mereka menempatkan Arab Saudi di Arab Saudi dan Qatar di Qatar. Jika mereka tidak melihat ada yang salah dengan ini, siapa kami untuk berkomentar lebih jauh?” ujarnya.
Jadwal Tak Adil dan Kondisi Pemain
Oman menghadapi jadwal berat: mereka akan melawan Qatar pada Rabu, lalu UEA hanya tiga hari setelahnya. Sementara Qatar mendapat waktu hampir seminggu untuk mempersiapkan pertandingan kedua. Hal serupa terjadi di Grup lain, di mana Arab Saudi juga mendapat jeda enam hari.
“Kami bermain tiga hari kemudian, sedangkan Qatar bermain enam hari setelahnya dan sudah tahu hasil pertandingan kami,” ucap Queiroz. “Hal seperti ini belum pernah terjadi. Mereka yang membuat aturan seolah tidak memikirkan keadilan kompetisi.”
Kesulitan Oman bertambah karena lima pemain mereka bermain di luar negeri.
“Kami punya pemain di Bangkok yang masih bertanding hari Minggu. Hari FIFA baru dimulai Senin, jadi mereka baru bisa terbang setelah itu, tiba Selasa, dan langsung bermain Rabu,” kata Queiroz. “Saya seperti diminta membuat omelet tanpa telur.”
Isu Wasit dan Faktor Geopolitik
Indonesia juga ikut bersuara. Federasi sepak bola Tanah Air melayangkan surat kepada FIFA dan AFC setelah mengetahui laga melawan Arab Saudi akan dipimpin wasit asal Kuwait.
“Kami ingin wasit yang benar-benar netral, mungkin dari Eropa atau kawasan lain, yang tidak memiliki kepentingan di wilayah ini,” ujar pejabat tim nasional, Kombes Sumardji.
Selain itu, laga uji coba antara Indonesia dan Kuwait yang seharusnya digelar pada 5 September juga dibatalkan tanpa alasan jelas.
Pelatih Kelas Dunia di Panggung Asia
Kualifikasi kali ini mempertemukan banyak pelatih ternama. Selain Carlos Queiroz yang menangani Oman, Julen Lopetegui kini memimpin Qatar setelah diangkat pada Mei. Arab Saudi kembali ditangani Hervé Renard, sementara Patrick Kluivert melatih Indonesia, dan Graham Arnold — yang sebelumnya membesut Australia — kini berada di kursi pelatih Irak.
Enam tim Asia sudah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026: Jepang, Iran, Korea Selatan, Australia, serta dua debutan, Uzbekistan dan Yordania. Namun, dengan segala keunggulan yang dimiliki, besar kemungkinan Arab Saudi dan Qatar akan segera menyusul mereka — meski bayang-bayang kontroversi AFC masih menghantui perjalanan mereka.

