Liverpool asuhan Klopp mungkin menjadi contoh brilian tentang betapa efektifnya garis pertahanan tinggi, tetapi tim yang sama juga beberapa kali dipermalukan akibat menerapkan kebijakan ini.
Dalam upaya mempertahankan gelar Liga Inggris musim 2020/2021 yang sangat mengecewakan (musim yang hampir sepenuhnya dimainkan dalam masa lockdown), Liverpool kebobolan banyak gol akibat penyerang-penyerang cepat dan cerdas yang memanfaatkan posisi para bek mereka yang terlalu maju.
Peristiwa ini paling mencolok terjadi di Villa Park pada Oktober 2020, ketika Ollie Watkins secara brutal menghukum pertahanan Liverpool dengan berlari menyongsong bola-bola panjang ke belakang garis pertahanan dan menyelesaikan peluangnya dengan klinis, sementara Van Dijk dan kawan-kawan tertinggal jauh di belakang.
Masalah mencolok dari taktik Klopp ini dengan cepat diungkap Jamie Carragher di Sky Sports. Mantan bek Liverpool itu mengatakan, “Saya tidak menyukainya dan saya tidak setuju dengannya. Cara mereka bermain, mereka mencoba menjebak orang dalam posisi offside.
Tim ini bermain tinggi di lapangan dan hampir mengorbankan satu peluang besar setiap pertandingan bagi lawan untuk berhadapan langsung dengan kiper. Namun mereka melihat keuntungan dari upaya itu untuk merebut bola.”
Carragher mengkritik Liverpool karena tetap bermain dengan cara yang sama bahkan ketika jelas-jelas tidak berhasil. Ia menambahkan, “Tidak ada yang salah dengan bermain dengan high line, tetapi ketika pressing itu tidak berjalan atau lawan mampu melewati pressing… mereka hanya berdiri dan menunggu serta mencoba memainkan perangkap offside. Saya benci tim yang mencoba perangkap offside. Menurut saya, dalam situasi itu Anda harus siap… ketika seseorang bersiap menendang bola, Anda harus siap untuk berlari kembali.”
Di bawah asuhan Ange Postecoglou, Tottenham Hotspur juga kerap dihukum karena memainkan filosofi serupa, meskipun pelatih asal Australia yang sangat teguh pada prinsipnya itu justru semakin menguatkan gaya mainnya. Ia berkata kepada wartawan, “It’s just who we are, mate” setelah kekalahan telak 1-4 dari Chelsea pada November 2023.
Kedua contoh ini merangkum kelemahan utama bermain dengan high line: satu bola yang diumpan dengan waktu dan arah tepat ke belakang pertahanan, dan Anda langsung berada dalam situasi berbahaya, di mana penyerang lawan memiliki peluang emas untuk berhadapan satu lawan satu dengan kiper.
Gol-gol seperti ini sering terlihat sangat sederhana dan menghancurkan dalam kecepatan serta efektivitasnya, sehingga kelemahan garis pertahanan tinggi terlihat dengan sangat jelas. Perangkap offside memang dapat dirancang untuk mengurangi risiko ini, tetapi seperti yang dialami Liverpool, ketergantungan berlebihan pada jebakan offside kadang justru berbalik menghukum tim tersebut secara dramatis.

