Selisih gol (goal difference) telah menjadi bagian penting dalam sepak bola profesional selama lebih dari setengah abad. FIFA pertama kali memperkenalkannya sebagai penentu peringkat di fase grup Piala Dunia 1970, lalu diikuti oleh berbagai kompetisi lain, termasuk English Football League (EFL) yang mulai menggunakan GD lima tahun kemudian.
Sebelumnya, kompetisi seperti EFL memakai goal average, sebuah metrik lama yang dihitung dengan membagi total gol yang dicetak dengan total gol yang kebobolan.
Fungsi Utama GD
Tujuan utama selisih gol adalah membantu menentukan urutan klasemen liga domestik. GD tidak hanya memberikan konteks tambahan mengenai performa menyerang dan bertahan suatu tim, tetapi juga menjadi alat penting untuk menentukan posisi akhir di klasemen.
Klasemen liga ditentukan berdasarkan jumlah poin. Tim dengan poin terbanyak menjadi juara. Namun, ketika ada dua tim atau lebih yang memiliki poin sama, statistik lain diperlukan.
Statistik pertama yang digunakan untuk menentukan siapa yang berada di posisi lebih tinggi ketika poin sama adalah goal difference (GD). Ini bisa berdampak besar—seperti pada musim 2011/12 ketika Manchester City menjadi juara Premier League untuk pertama kalinya karena unggul selisih gol dari Manchester United.
Kedua tim sama-sama mengoleksi 89 poin, tetapi City memiliki GD +64, delapan gol lebih baik daripada GD +56 milik United. Karena itu, City berhak mengangkat trofi Premier League.
Jika GD Masih Sama
Situasi semacam itu memang jarang, tetapi jika dua tim memiliki poin dan selisih gol yang sama, maka metrik selanjutnya adalah GF (goals for)—jumlah gol yang dicetak sepanjang musim. Tim dengan total gol lebih banyak berhak berada di posisi lebih tinggi.
Jika GF juga sama, penentuan posisi biasanya dilanjutkan ke catatan head-to-head antar kedua tim. Sementara itu, GA (goals against) jarang digunakan sebagai penentu posisi. Jika semua metrik gol identik, beberapa liga menggunakan catatan disiplin hingga urutan alfabet sebagai penentu terakhir.
Penggunaan di Kompetisi Lain
Tidak hanya liga domestik, kompetisi antarklub seperti Liga Champions UEFA dan Liga Europa—yang memiliki fase grup atau format liga—juga menggunakan GD dan GF untuk menentukan tim yang lolos ke babak gugur.
Di sepak bola internasional, metrik seperti GD juga sangat penting dalam menentukan siapa yang melaju dari fase grup. Pada Euro 2020, misalnya, Denmark menempati peringkat 2 di grup mereka (dan otomatis lolos ke fase gugur) berkat selisih gol. Mereka bahkan hampir mencapai final sebelum kalah dramatis akibat gol telat dari Harry Kane.

