Spekulasi mengenai masa depan Mohamed Salah di Liverpool kembali menghangat menjelang dibukanya bursa transfer Januari. Namun, perkembangan terbaru justru mengarah pada sinyal positif, setelah sejumlah pernyataan dari pelatih Arne Slot dan rekan setim Curtis Jones mengindikasikan bahwa hubungan internal di klub telah membaik.
Salah sebelumnya menjadi sorotan usai melontarkan kritik terbuka terhadap Arne Slot dan jajaran manajemen Liverpool. Komentar tersebut memicu kontroversi luas, termasuk kritik dari sejumlah pundit Inggris yang menilai sikap bintang asal Mesir itu tidak mencerminkan kepentingan tim. Situasi ini sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa Januari akan menjadi momen perpisahan antara Salah dan The Reds.
Namun, jurnalis sepak bola David Lynch menilai dinamika tersebut kini berubah. Menurutnya, indikasi dari pihak klub dan ruang ganti menunjukkan bahwa Salah kemungkinan besar akan bertahan setidaknya hingga akhir musim.
Isyarat Perdamaian di Internal Liverpool
Dalam keterangannya, Lynch menegaskan bahwa pernyataan Curtis Jones mengenai permintaan maaf Salah kepada seluruh pemain merupakan langkah krusial. Tindakan itu dinilai mencerminkan kedewasaan dan keinginan sang winger untuk meredakan ketegangan.
Arne Slot pun menguatkan narasi tersebut. Dalam konferensi pers terakhirnya, pelatih asal Belanda itu menyatakan bahwa Liverpool telah “melangkah maju” dari persoalan tersebut. Ungkapan itu dinilai sebagai tanda bahwa konflik internal telah diselesaikan secara profesional.
Bagi Liverpool, menjaga stabilitas tim menjadi krusial di tengah musim yang penuh tantangan, baik di Premier League maupun kompetisi Eropa. Salah, dengan pengalaman dan pengaruhnya, masih dianggap sebagai figur sentral di dalam skuad.
Godaan Liga Arab Saudi Masih Mengintai
Meski situasi internal membaik, spekulasi eksternal belum sepenuhnya reda. Mohamed Salah masih kerap dikaitkan dengan klub-klub Liga Pro Arab Saudi yang siap mengajukan tawaran besar. Faktor usia, Salah kini berusia 33 tahun, juga menjadi bahan diskusi terkait masa depan jangka panjangnya.
Namun, jika bertahan, Salah berpeluang membantu Liverpool melaju jauh di Liga Champions 2026. Ambisi klub untuk kembali bersaing di level tertinggi Eropa bisa menjadi alasan kuat bagi sang pemain untuk menunda kepindahan.
Liverpool sendiri diyakini enggan melepas ikon klubnya di tengah musim, kecuali ada tawaran yang benar-benar luar biasa. Dengan hubungan yang mulai mencair, kemungkinan transfer pada Januari kini terlihat semakin kecil.
AFCON Jadi Tantangan Tersendiri
Di sisi lain, Liverpool tetap harus menghadapi konsekuensi absennya Mohamed Salah yang kini memperkuat tim nasional Mesir di Piala Afrika (AFCON). Turnamen ini memiliki arti emosional besar bagi Salah, yang masih memburu gelar AFCON pertamanya setelah kegagalan di final 2022 saat Mesir kalah dari Senegal lewat adu penalti.
Salah bertekad membawa Mesir melangkah sejauh mungkin, bahkan hingga final. Namun, ada kekhawatiran bahwa perjalanan panjang di AFCON justru berdampak negatif terhadap performanya bersama Liverpool di paruh kedua musim.
David Lynch menyoroti fakta bahwa performa Mohamed Salah kerap menurun setelah kembali dari turnamen internasional tengah musim. Hal ini pernah terjadi pada musim 2021–2022, ketika produktivitasnya menurun signifikan pasca-AFCON.
“AFCON biasanya berdampak negatif terhadap performa Salah saat memasuki paruh kedua musim. Secara umum, dia tidak tampil sebaik biasanya ketika kembali dari AFCON, dan itu menjadi sedikit kekhawatiran menjelang fase krusial musim ini,” kata Lynch seperti dikutip dari Sports Mole.

