Dalam upaya menciptakan keadilan di lapangan hijau, sepak bola modern terus berinovasi. Salah satu inovasi paling revolusioner dalam satu dekade terakhir adalah penerapan teknologi Video Assistant Referee (VAR). Diperkenalkan secara resmi pada Piala Dunia 2018, VAR bertujuan membantu wasit membuat keputusan yang lebih akurat dalam momen-momen krusial pertandingan.
Namun, sejak kemunculannya hingga sekarang, VAR justru menjadi perdebatan hangat di kalangan pemain, pelatih, media, bahkan penggemar. Ada yang menyebutnya sebagai “penyelamat keadilan”, tapi tak sedikit yang menilainya sebagai “perusak emosi sepak bola”.
Kini, saat Liga 1 Indonesia atau Super League mulai mengadopsi sistem VAR secara bertahap, pertanyaan yang mengemuka adalah, apakah VAR benar-benar solusi, atau justru menjadi masalah baru dalam sepak bola modern?
VAR dirancang untuk membantu wasit dalam empat keputusan utama, yakni gol dan pelanggaran yang terjadi dalam proses terjadinya gol, keputusan penalti, kartu merah langsung dan identifikasi pemain yang salah.
Dengan adanya tayangan ulang dan tim wasit tambahan di ruang VAR, harapannya adalah kesalahan besar yang bisa mengubah hasil pertandingan dapat diminimalisasi. FIFA dan IFAB (International Football Association Board) mengklaim bahwa sejak penggunaan VAR, akurasi keputusan wasit meningkat hingga 98,8%.
VAR di Liga-Liga Top Dunia
Beberapa liga besar seperti Liga Inggris (Premier League), Serie A Italia, La Liga Spanyol, dan Bundesliga Jerman sudah menerapkan VAR secara penuh sejak 2019. Namun, hasilnya tidak selalu positif.
Di Premier League, VAR justru kerap menuai kontroversi. Terlalu sering terjadi keputusan yang membingungkan, seperti gol yang dianulir karena offside dengan margin sentimeter. Selain itu, keputusan penalti yang berubah meski kontak terlihat minimal dan proses pengecekan yang memakan waktu lama dan mengganggu ritme pertandingan.
Di Italia dan Spanyol, VAR bekerja lebih cepat dalam pengambilan keputusan. Namun masalah standar dan konsistensi tetap menjadi sorotan. Banyak pengamat menilai bahwa masih ada bias dalam penggunaan VAR, terutama dalam laga-laga yang melibatkan klub besar.
Di Asia, dua liga yang dianggap berhasil menerapkan VAR adalah K-League Korea Selatan dan J-League Jepang. Keduanya mengadopsi teknologi ini dengan prosedur yang transparan, pelatihan intensif untuk wasit dan komunikasi terbuka kepada publik.
Penggunaan VAR di K-League dinilai efektif karena keputusan yang diambil tidak memakan waktu lama. Selain itu, wasit tetap menjadi otoritas utama di lapangan. Hal yang sama terjadi di J-League, dimana pengambilan keputusan dilakukan dengan mempertimbangkan flow of the game serta tetap menjaga emosi pertandingan.
Bagaimana dengan VAR di Indonesia?
Setelah melalui berbagai wacana dan uji coba sejak 2023, Super League akhirnya mulai menerapkan VAR. Penerapan tersebut dilakukan secara terbatas pada musim 2025. Beberapa pertandingan penting, seperti big match Persib vs Persija dan laga penentuan juara, telah menggunakan VAR sebagai bagian dari sistem pengambilan keputusan.
Banyak pihak mendukung VAR karena diyakini mampu mencegah gol tidak sah, penalti “soft”, dan kesalahan identifikasi pemain. Dengan teknologi ini, klub-klub kecil punya peluang lebih adil saat menghadapi klub besar.
Sebaliknya, tidak sedikit yang mengkritik VAR karena dianggap mengganggu alur permainan. Hal ini membuat para pemain kehilangan spontanitas, dan justru menciptakan ketidakpastian baru.

