Jiu Jitsu adalah nama dari beberapa aliran teknik bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri ini pada dasarnya merupakan bentuk pembelaan diri yang bersifat defensif dan lebih mengandalkan kelincahan, kecerdikan, serta fleksibilitas dalam menghadapi serangan lawan.
Tidak seperti beberapa seni bela diri lain yang bertumpu pada kekuatan otot semata, Jiu Jitsu justru mengajarkan bagaimana memanfaatkan tenaga, gerakan, dan bahkan momentum lawan untuk mengalahkannya kembali.
Dalam praktiknya, serangan yang datang tidak dihadapi dengan kekerasan yang sama kuatnya, tetapi “dibelokkan”, dikendalikan, lalu digunakan kembali sebagai senjata untuk menjatuhkan atau melumpuhkan lawan. Konsep inilah yang membuat Jiu Jitsu dikenal sebagai bela diri yang cerdas, efektif, dan hemat tenaga, jika dilakukan dengan teknik yang tepat.
Dalam Jiu Jitsu, terdapat tiga teknik dasar yang dianggap sebagai teknik terkuat dan paling penting untuk dikuasai, yaitu atemi waza (teknik serangan), nage waza (teknik take down), dan kansetsu waza (teknik kuncian). Setiap aliran atau perguruan Jiu Jitsu memiliki cara dan gaya tersendiri dalam menerapkan teknik-teknik tersebut, namun prinsip dasarnya tetap sama.
Teknik Serangan (Atemi Waza)
Teknik serangan dalam Jiu Jitsu dikenal dengan istilah atemi waza. Teknik ini digunakan untuk menyerang, mengganggu keseimbangan, dan melemahkan lawan sebelum dilakukan teknik lanjutan seperti bantingan atau kuncian. Meskipun Jiu Jitsu dikenal sebagai bela diri defensif, atemi waza tetap memiliki peranan penting dalam membuka celah pertahanan lawan.
Teknik serangan ini mencakup berbagai jenis gerakan pukulan, tendangan, dan hadangan.
Jenis-jenis gerakan pukulan yang umum dalam atemi waza antara lain seperti:
- Pukulan terjang atau lunge punch, yang dilakukan dengan melangkah ke depan sambil melontarkan pukulan.
- Pukulan dua tangan atau two-handed punch.
- Pukulan belakang atau back punch/uppercut yang diarahkan ke dagu atau bagian bawah wajah lawan.
- Serangan tangan pisau atau knife hand strike yang memanfaatkan sisi telapak tangan.
- Serangan siku atau elbow strike yang sangat efektif dalam pertarungan jarak dekat.
- Serta berbagai jenis pukulan lainnya yang dikombinasikan dengan gerakan menghindar.
Selain pukulan, terdapat pula berbagai jenis gerakan tendangan, di antaranya:
- Tendangan depan atau front kick.
- Tendangan samping atau side kick.
- Tendangan bulan sabit atau crescent kick.
- Tendangan lutut atau knee kick yang biasanya digunakan saat jarak sangat dekat.
- Tendangan depan melayang atau flying front kick.
- Tendangan samping melayang atau flying side kick.
- Serta variasi tendangan lainnya yang berfungsi untuk menjatuhkan keseimbangan lawan.
Tidak hanya menyerang, dalam atemi waza juga terdapat teknik hadangan atau tangkisan untuk menahan dan mengalihkan serangan lawan. Beberapa contohnya antara lain:
- Hadangan lengan bawah atau forearm block.
- Hadangan belakang tangan atau back hand block.
- Hadangan tangan pisau atau knife hand block.
- Hadangan cepat atau sweeping block.
- Serta berbagai jenis tangkisan lainnya yang digunakan sesuai arah datangnya serangan.
Teknik-teknik ini tidak hanya berguna untuk menyerang, tetapi juga membantu praktisi Jiu Jitsu untuk menciptakan peluang melakukan bantingan atau penguncian.
Teknik Take Down (Nage Waza)
Teknik kedua yang sangat penting dalam Jiu Jitsu adalah nage waza, atau teknik menjatuhkan. Tujuan dari teknik ini adalah untuk menjatuhkan, menumbangkan, atau membuat lawan kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terjatuh ke lantai.
Dalam praktik Jiu Jitsu, sebelum melakukan teknik kuncian terhadap tubuh lawan, sangat penting memastikan bahwa lawan sudah berada dalam posisi jatuh atau setidaknya kehilangan stabilitas berdirinya. Oleh karena itu, nage waza menjadi jembatan utama antara fase berdiri dan fase pertarungan di lantai.
Salah satu cara umum yang digunakan untuk menjatuhkan lawan adalah dengan membelit kaki lawan dari bawah menggunakan kaki sendiri, sehingga lawan kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Namun, teknik ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dibutuhkan kecepatan, timing yang tepat, dan kemampuan membaca gerakan lawan.
Seorang praktisi Jiu Jitsu harus pintar memprediksi pergerakan lawan, karena bisa saja lawan berusaha menghindar, melompat, atau memosisikan tubuhnya sedemikian rupa saat terjatuh, sehingga ia masih memiliki peluang untuk melakukan serangan balik.
Oleh sebab itu, nage waza tidak hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga kecermatan dalam membaca situasi dan memanfaatkan momentum yang ada.
Teknik Kuncian (Kansetsu Waza)
Teknik dasar ketiga dalam Jiu Jitsu adalah kansetsu waza, atau teknik kuncian. Jika lawan sudah berhasil dijatuhkan ke lantai melalui nage waza, maka kansetsu waza digunakan untuk mengendalikan dan melumpuhkan pergerakan lawan.
Teknik kuncian dalam Jiu Jitsu memiliki jenis dan gaya yang sangat beragam. Praktisi dapat menggunakan tangan, kaki, atau bahkan seluruh tubuhnya untuk mengunci bagian tubuh lawan seperti lengan, bahu, leher, atau kaki, sehingga lawan tidak dapat bergerak atau memberikan perlawanan.
Sebagai contoh, seseorang dapat menjepit salah satu sisi tubuh lawan menggunakan kedua kakinya, lalu mencengkeram lengan di sisi tubuh lawan tersebut. Setelah posisi kuncian sudah tepat, tekanan diberikan secara terkontrol untuk memastikan lawan tidak dapat meloloskan diri.
Teknik kansetsu waza harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh kendali, terutama dalam latihan, karena jika dilakukan sembarangan dapat menyebabkan cedera serius pada sendi atau otot lawan.

