Turin kembali bergemuruh. Setelah serangkaian hasil buruk dan pergantian pelatih yang tak kunjung membawa stabilitas, Juventus resmi menunjuk Luciano Spalletti sebagai pelatih kepala baru. Keputusan ini menandai babak baru dalam perjalanan Si Nyonya Tua, yang kini berharap pengalaman panjang dan kecerdasan taktis Spalletti mampu mengembalikan kejayaan mereka di Serie A dan Eropa.
Dengan usia 66 tahun, Spalletti tidak hanya membawa segudang pengalaman, tetapi juga mencetak sejarah baru sebagai pelatih tertua yang pernah menangani Juventus. Ia menggeser rekor sebelumnya yang dipegang oleh Maurizio Sarri pada 2019 (usia 60 tahun).
Rekor dan Jejak Gemilang Luciano Spalletti
Luciano Spalletti lahir pada 7 Maret 1959 di Certaldo, Provinsi Firenze, Italia. Sebelum meniti karier di dunia kepelatihan, ia sempat bermain untuk beberapa klub kecil seperti Spezia dan Empoli. Ia kemudian memulai debut sebagai pelatih pada awal 1990-an.
Langkah awalnya bersama Empoli menunjukkan kualitas kepemimpinannya. Ia sukses membawa klub tersebut menjuarai Serie C dan promosi ke Serie A. Ketekunan dan kecerdasan taktisnya menarik perhatian banyak klub. Hingga akhirnya ia mendapat tawaran dari Udinese di awal 2000-an.
Bersama Udinese, Luciano Spalletti menorehkan sejarah. Dalam tiga musim beruntun, ia berhasil membawa tim tampil di kompetisi Eropa. Musim 2004/2005 menjadi tonggak emas dalam kariernya, ketika Udinese finis di posisi keempat Serie A dan berhak mengikuti kualifikasi Liga Champions UEFA untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.
Capaian luar biasa itu membuat Spalletti mendapat reputasi sebagai pelatih cerdas dengan pendekatan modern. Ia memanfaatkan pressing tinggi, rotasi posisi dinamis, serta serangan berbasis ruang, filosofi yang kelak menjadi ciri khasnya.
Era Keemasan Luciano Spalletti Bersama AS Roma
Sukses di Udinese membawa Spalletti ke klub ibu kota, AS Roma, pada tahun 2005. Di sana, ia mengembangkan gaya permainan menyerang dengan formasi 4-2-3-1 yang sangat populer di Eropa. Formasi tersebut menjadikan Francesco Totti sebagai “false nine” peran yang revolusioner pada masa itu. Kemudian banyak diadopsi oleh pelatih-pelatih dunia seperti Pep Guardiola dan Jurgen Klopp.
Selama empat tahun di Roma, Spalletti mempersembahkan dua gelar Coppa Italia (2007, 2008) dan satu Piala Super Italia (2007). Selain itu, beberapa kali menjadi runner-up Serie A di bawah dominasi Inter Milan era Jose Mourinho. Meski gagal meraih Scudetto, Spalletti meninggalkan warisan gaya bermain indah dan keberanian menonjolkan pemain muda.
Pada tahun 2009, Spalletti melangkah ke luar Italia untuk menantang dirinya sendiri di Rusia bersama Zenit St. Petersburg. Selama lima tahun, ia membawa klub itu mencapai masa kejayaan baru. Beberapa pencapaian yang ia raih antara lain dua Gelar Liga Rusia (2010, 2012), satu Piala Rusia (2010) dan satu Piala Super Rusia (2011).
Kembali ke Italia: Roma, Inter, dan Puncak di Napoli
Setelah sukses di luar negeri, Spalletti kembali ke Italia pada 2016 untuk melatih AS Roma (kali kedua). Ia berhasil membawa klub tersebut finis di posisi kedua Serie A musim 2016/17 dengan perolehan poin tertinggi kedua dalam sejarah mereka.
Setelah Roma, ia pindah ke Inter Milan dan menjadi sosok penting dalam membawa Nerazzurri kembali ke Liga Champions UEFA setelah absen enam tahun. Namun, puncak dari perjalanan karier Spalletti datang bersama Napoli.
Musim 2022/2023, Luciano Spalletti menorehkan sejarah besar dengan membawa Napoli menjuarai Serie A untuk pertama kalinya setelah 33 tahun penantian sejak era Diego Maradona. Prestasi itu tidak hanya mengakhiri kutukan panjang, tetapi juga menjadikan Spalletti sebagai pelatih tertua yang memenangkan Scudetto (usia 64 tahun), mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang Maurizio Sarri.
Setelah sukses di Napoli, Spalletti ditunjuk sebagai pelatih Timnas Italia pada tahun 2023, menggantikan Roberto Mancini. Ia memimpin Gli Azzurri dalam kualifikasi Euro 2024, membawa semangat baru dengan filosofi menyerang yang menekankan kreativitas dan intensitas.
Namun, setelah satu tahun memimpin tim nasional, Spalletti memilih menerima tantangan baru bersama Juventus, klub paling sukses dalam sejarah sepak bola Italia. Langkah ini sekaligus menjadikannya pelatih tertua dalam sejarah klub pada usia 66 tahun.
Kontrak dan Target Luciano Spalletti Bersama Juventus
Juventus resmi mengontrak Spalletti hingga 30 Juni 2026 dengan opsi perpanjangan otomatis jika mampu membawa klub lolos ke Liga Champions musim depan.
Tugas utama Spalletti jelas.
Selain mengembalikan identitas Juventus sebagai tim juara, ia juga bertugas untuk menstabilkan ruang ganti setelah era penuh gejolak di bawah Igor Tudor. Selain itu juga mengembangkan potensi pemain muda seperti Kenan Yildiz dan Samuel Iling-Junior.
Spalletti dikenal sebagai pelatih yang mampu menggabungkan kedisiplinan klasik Italia dengan taktik modern berbasis pergerakan bola. Juventus berharap kombinasi itu bisa menghidupkan kembali semangat Bianconeri yang sempat pudar.

