Nama John Herdman kini mencuat dalam bursa calon pelatih anyar Tim Nasional Indonesia. Pelatih asal Inggris itu disebut-sebut masuk radar utama PSSI seiring upaya federasi mencari figur berpengalaman yang mampu membawa skuad Garuda naik kelas di level internasional.
Bagi publik sepak bola, Herdman bukan sekadar nama besar. Ia dikenal sebagai arsitek tim nasional yang sukses membangun kekuatan dari fondasi, bukan hasil instan. Pendekatan inilah yang membuat profilnya menarik untuk dikaji lebih dalam.
John Herdman lahir di Consett, County Durham, Inggris, pada 19 Juli 1975. Berbeda dari banyak pelatih elite yang memiliki karier panjang sebagai pemain profesional, Herdman justru menempuh jalur berbeda. Sejak usia muda, ia memilih menekuni dunia kepelatihan dan pengembangan pemain sebagai fokus utama kariernya.
Keputusan tersebut membawanya pada langkah berani di usia 28 tahun. Herdman meninggalkan Inggris dan hijrah ke Selandia Baru, memulai kiprah sebagai pelatih kelompok umur. Dari sana, ia perlahan menapaki tangga sepak bola internasional, membangun reputasi sebagai pelatih dengan visi jangka panjang.
Kariernya mulai mendapat sorotan ketika dipercaya menangani Tim Nasional Putri Selandia Baru pada periode 2006 hingga 2011. Selama lebih dari lima tahun, Herdman sukses membentuk tim yang kompetitif dan disiplin. Puncaknya, ia membawa Selandia Baru tampil di Piala Dunia Wanita FIFA 2007 dan 2011—sebuah pencapaian penting bagi negara tersebut.
Tonggak besar berikutnya hadir pada 2018. Herdman menerima tantangan melatih Timnas Putra Kanada, sebuah keputusan yang kemudian terbukti monumental. Di bawah komandonya, Kanada tampil sebagai kekuatan baru di kawasan CONCACAF dan memastikan tiket ke Piala Dunia 2022, penampilan pertama mereka di ajang tersebut setelah penantian 36 tahun.
Tak hanya itu, Herdman menorehkan catatan langka dalam sejarah sepak bola dunia. Ia menjadi satu-satunya pelatih yang mampu membawa tim nasional putri dan putra dari negara yang sama lolos ke Piala Dunia. Pada periode yang sama, ia juga sempat menangani Timnas U-23 Kanada, mempertegas perannya dalam pembangunan sepak bola lintas level.
Warisan Herdman di Kanada dinilai sangat kuat. Ia dianggap meninggalkan fondasi taktis, mentalitas kompetitif, serta sistem pembinaan yang berkelanjutan. Namun, kebersamaan itu berakhir pada 2023, menandai babak baru dalam perjalanan kariernya.
Selepas dari tim nasional, Herdman mencoba peruntungan di level klub dengan menangani Toronto FC pada 2023. Sayangnya, petualangannya di Major League Soccer (MLS) tidak berlangsung lama dan berakhir pada 2024. Meski demikian, reputasinya sebagai pelatih tim nasional tetap terjaga.
Sempat dikaitkan dengan kursi pelatih Timnas Jamaika, Herdman akhirnya tidak mencapai kata sepakat. Hingga kini, ia berstatus tanpa klub dan terbuka terhadap tantangan baru—situasi yang membuat peluangnya ke Timnas Indonesia kian menguat.
Kini, publik sepak bola Tanah Air menanti langkah PSSI selanjutnya. Apakah John Herdman akan menjadi sosok yang dipercaya memimpin era baru Timnas Indonesia, atau sekadar nama besar dalam bursa pelatih? Jawabannya tinggal menunggu waktu.

