Masih segar dalam ingatan para pecinta sepak bola saat Ajax Amsterdam, di bawah arahan Erik ten Hag, membungkam Real Madrid di Santiago Bernabéu dengan skor telak 4–1 pada Maret 2019. Kala itu, Ten Hag dielu-elukan sebagai arsitek revolusi sepak bola modern. Namun hari ini, hanya enam tahun berselang, ia dicap gagal total usai dipecat Bayer Leverkusen hanya dalam waktu 62 hari.
Dari kejayaan di Liga Champions hingga keterpurukan di Bundesliga, perjalanan karier Ten Hag ibarat roller coaster yang kehilangan kendali. Pertanyaannya, apa yang salah dengan Erik ten Hag?
Erik ten Hag mulai mencuri perhatian dunia sepak bola saat membawa Ajax Amsterdam menembus semifinal Liga Champions 2018/2019. Timnya tampil menawan dengan pressing tinggi, transisi cepat, dan permainan posisi yang membuat lawan tak berdaya. Real Madrid dan Juventus menjadi korban. Hanya keajaiban Lucas Moura-lah yang menggagalkan langkah mereka ke final.
Skuad itu diisi oleh talenta muda seperti Matthijs de Ligt, Frenkie de Jong, Hakim Ziyech, dan Donny van de Beek. Ten Hag tak hanya membentuk tim kompetitif, ia menciptakan filosofi. Ajax menjadi simbol sepak bola modern yang segar dan menyerang.
Secara domestik, ia mempersembahkan tiga gelar Eredivisie dan dua KNVB Cup dalam empat musim. Klub-klub besar seperti Bayern Munchen, Tottenham, dan Barcelona dikabarkan tertarik padanya. Ia dianggap sebagai calon pelatih top Eropa, dan Ajax sebagai panggung awalnya.
Manchester United: Harapan yang Berubah Menjadi Kekacauan
Pada 2022, Manchester United menunjuk Ten Hag sebagai manajer utama. Ia mengalahkan nama-nama besar seperti Mauricio Pochettino dan Julen Lopetegui dalam proses seleksi. Misinya jelas, membangun kembali identitas klub, memainkan sepak bola menyerang, mengembangkan pemain muda, dan mengembalikan kejayaan yang hilang sejak era Sir Alex Ferguson.
Awal kariernya cukup menjanjikan. Musim pertama ditutup dengan gelar Piala Liga dan finis empat besar, cukup untuk mengamankan tiket Liga Champions. Marcus Rashford tampil tajam, dan ruang ganti tampak kondusif. Bahkan hubungan dengan Cristiano Ronaldo sempat berjalan baik, hingga wawancara kontroversial dengan Piers Morgan merusaknya.
Namun memasuki musim kedua dan ketiga, retakan mulai terlihat. Jadon Sancho dibekukan, Antony tampil buruk, dan tim kehilangan arah. Strategi permainan dipertanyakan, dan sejumlah pemain senior mulai meragukan metodenya.
Kekalahan 0–7 dari Liverpool menjadi simbol kehancuran. Pada musim ketiganya, United tercecer di posisi ke-14 klasemen dan kembali terancam gagal lolos ke kompetisi Eropa. Meski mengakhiri kariernya di Old Trafford dengan satu gelar dan pesan perpisahan yang elegan, Ten Hag meninggalkan klub dalam kondisi yang jauh dari ideal.
Bayer Leverkusen: Reset yang Gagal Total
Musim panas 2025, Ten Hag menerima tawaran dari Bayer Leverkusen yang baru saja ditinggalkan Xabi Alonso, pelatih yang membawa mereka meraih gelar Bundesliga pertama sepanjang sejarah klub.
Banyak yang melihat ini sebagai kesempatan emas bagi Ten Hag untuk membuktikan bahwa kejayaannya di Ajax bukan sekadar kebetulan. Leverkusen adalah klub dengan struktur modern, skuad kompetitif, dan ekspektasi tinggi.
Namun sejak hari pertama, segalanya berjalan keliru. Ia bersikeras membawa tim ke Brasil untuk pertandingan persahabatan melawan Flamengo U20, yang berakhir dengan kekalahan memalukan 1–5. Para pemain merasa tidak didengar, manajemen tidak menyetujui keputusan tersebut, dan atmosfer tim mulai memburuk.
Di lapangan, Leverkusen kalah dalam dua laga pembuka Bundesliga, dikalahkan Hoffenheim dan dibantai Bremen. Bahkan kemenangan di DFB-Pokal atas tim kasta keempat tidak mampu menyelamatkannya.
Konflik internal mencuat. Ten Hag tidak setuju dengan penjualan Jonathan Tah, menentang rencana melepas Granit Xhaka, dan menyalahkan staf pelatih atas kebugaran pemain, meski ia sendiri yang merancang pramusim. Laporan menyebutkan bahwa sebelum laga melawan Hoffenheim, ia bahkan tidak memberikan arahan tim secara langsung.
Salah satu kritik utama terhadap Erik ten Hag adalah gaya kepemimpinannya yang dianggap terlalu kaku dan tidak fleksibel. Ten Hag terkesan dingin dan terlalu fokus pada sistem ketimbang membangun hubungan personal.
Di era modern, pelatih tak hanya dituntut cerdas secara taktik, tetapi juga memiliki kemampuan manajerial yang baik. Pelatih seperti Pep Guardiola, Jurgen Klopp, dan Carlo Ancelotti telah menunjukkan bahwa koneksi emosional dengan pemain sama pentingnya dengan papan taktik. Kehadiran Ten Hag di Leverkusen terasa seperti antitesis dari era Alonso. Ia tidak pernah benar-benar “klik” dengan klub, pemain, maupun budaya kompetisi Bundesliga.

