Perjalanan Toprak Razgatlioglu di MotoGP 2026 ternyata jauh dari kata mudah. Setelah sukses besar di ajang World Superbike (WSBK), pembalap asal Turki itu kini harus menghadapi kenyataan pahit bersama tim Prima Pramac Yamaha. Alih-alih langsung tampil kompetitif, Toprak justru masih berkutat di papan bawah klasemen sementara.
Musim ini menjadi tantangan besar bagi Yamaha. Pabrikan asal Jepang tersebut memperkenalkan proyek baru mesin V4 pada motor Yamaha M1 mereka. Namun, proyek ini masih dianggap belum matang dan lebih dipersiapkan untuk regulasi baru MotoGP 2027. Situasi tersebut membuat para pembalap Yamaha, termasuk Toprak, harus bekerja ekstra keras untuk menemukan performa terbaik.
Dalam enam seri pertama MotoGP 2026, Toprak hanya mampu mengoleksi empat poin. Hasil terbaiknya sejauh ini adalah finis posisi ke-13 di Le Mans dan posisi ke-15 di Austin. Catatan itu tentu sangat berbeda dibandingkan masa kejayaannya di WorldSBK. Terlebih ketika ia terbiasa bertarung memperebutkan kemenangan hampir di setiap balapan.
Perubahan besar dari Superbike ke MotoGP menjadi salah satu faktor utama sulitnya adaptasi Toprak. Selain harus menyesuaikan diri dengan motor prototipe MotoGP, ia juga perlu memahami karakter ban Michelin yang sangat berbeda dengan ban Pirelli yang selama ini digunakannya di WSBK.
Toprak sendiri mengakui bahwa dirinya masih kesulitan memaksimalkan performa ban belakang tipe soft. Ia merasa belum mampu memanfaatkan grip tambahan yang diberikan ban tersebut, terutama saat pengereman dan keluar tikungan. Hal itu sangat berpengaruh dalam sesi kualifikasi maupun sprint race.
Meski begitu, pembalap berusia 29 tahun itu terus menunjukkan semangat untuk berkembang. Bersama tim Prima Pramac Yamaha, ia aktif mencari solusi agar bisa lebih kompetitif di sisa musim ini. Seri Mugello akhir pekan nanti juga menjadi tantangan menarik baginya. Terlebih mengingat terakhir kali ia membalap di sana terjadi pada 2014 saat tampil di Red Bull Rookies Cup.
Toprak Kesulitan, Marquez Pun Disebut Tak Bisa Menang
Dukungan terhadap Toprak datang dari sesama pembalap WorldSBK, Alex Lowes. Dalam wawancaranya dengan media Speedweek, Lowes menilai situasi yang dihadapi Toprak sangat berat karena faktor motor dan teknologi memainkan peran penting di MotoGP modern.
Menurut Lowes, bahkan pembalap sehebat Marc Marquez belum tentu bisa menang jika mengendarai Yamaha saat ini. Ia menilai performa motor sangat menentukan hasil akhir balapan, bukan hanya kemampuan pembalap semata.
“Kalau Marc Marquez mengendarai Yamaha, jelas dia juga tidak akan menang. Kalau Nicolo Bulega mengendarai Bimota, dia juga tidak otomatis menjadi juara dunia,” ujar Alex Lowes seperti dikutip dari Corsedimoto.
Lowes juga mencontohkan kondisi Fabio Quartararo yang dinilai tidak lagi tampil dominan seperti saat menjadi juara dunia MotoGP. Hal tersebut memperlihatkan bahwa masalah Yamaha memang cukup serius dalam beberapa musim terakhir.
Selain adaptasi motor dan ban, Toprak juga harus menghadapi perubahan atmosfer kompetisi. Di WorldSBK, ia dikenal sebagai pembalap agresif yang selalu memburu kemenangan. Namun di MotoGP, finis di posisi 10 besar saja sudah menjadi tantangan besar. Situasi mental seperti ini tentu membutuhkan penyesuaian yang tidak mudah.
Meski hasil awal musim belum memuaskan, banyak pihak percaya Toprak masih memiliki masa depan cerah di MotoGP. Kehadiran ban Pirelli mulai 2027 disebut bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi sang pembalap Turki karena ia sudah sangat memahami karakter ban tersebut selama bertahun-tahun di WorldSBK.
Kini, fokus utama Toprak adalah terus belajar dan membantu Yamaha mengembangkan motor mereka. Jika proyek Yamaha berhasil berkembang sesuai rencana, bukan tidak mungkin Razgatlioglu akan menjadi ancaman serius di MotoGP dalam beberapa musim mendatang.

