Untuk sebuah kompetisi yang sering disebut sebagai “liga terbaik di dunia”, Premier League ternyata juga pernah melahirkan tim-tim yang tampil luar biasa buruk. Sepanjang sejarahnya, ada klub-klub yang begitu buruk hingga seolah-olah berkompetisi dalam “liga mini” mereka sendiri—liga para kandidat tim terburuk yang pernah mencicipi kompetisi kasta tertinggi Inggris.
Tentu saja, tidak selalu sepenuhnya salah para pemain atau pelatih. Banyak klub yang kesulitan menyesuaikan diri dari Championship ke Premier League karena jurang kualitas dan finansial yang begitu besar. Namun Premier League adalah tempat yang kejam: siapa yang tidak siap, akan langsung terbenam.
Berikut daftar tim-tim terburuk dalam sejarah Premier League, diurutkan berdasarkan perolehan poin paling kecil.
20. West Brom (2020/21) – 26 Poin
Sam Allardyce akhirnya merasakan degradasi pertamanya pada musim ini. Setelah Slaven Bilic dipecat pada pekan ke-13, “Big Sam” masuk sebagai spesialis penyelamat. Namun kali ini, si ahli “escape” itu tidak mampu mengangkat performa skuad West Brom yang kurang meyakinkan.
Meski memiliki nama-nama seperti Sam Johnstone, Conor Gallagher, dan Matheus Pereira, kebangkitan tidak pernah benar-benar terjadi. Kemenangan 5–2 atas Chelsea hanya menjadi harapan samar. Kepulangan mereka ke Championship sudah diprediksi sejak jauh hari.
19. Fulham (2018/19) – 26 Poin
Fulham datang ke Premier League dengan ekspektasi besar setelah investasi lebih dari £100 juta untuk membangun skuad kompetitif. Namun hasilnya jauh dari harapan.
Meskipun diperkuat deretan pemain berlabel besar, pertahanan Fulham sangat rapuh dan kebobolan 81 gol sepanjang musim. Hanya Scott Parker—yang mengambil alih jelang akhir musim—yang mampu memberi sedikit angin segar lewat tiga kemenangan beruntun pada April. Tanpa itu, posisi Fulham di daftar ini mungkin lebih buruk.
18. QPR (2012/13) – 25 Poin
Sebelum Premier League menjadi mesin uang seperti sekarang, QPR sudah melakukan aksi “beli banyak pemain” yang kacau. Mereka mendatangkan nama-nama seperti Junior Hoilett, Jose Bosingwa, Julio Cesar, Andy Johnson, hingga Rob Green secara gratis.
Mark Hughes kemudian dipecat pada November, dan Harry Redknapp yang masuk pun melakukan belanja besar di Januari: Christopher Samba dan Loic Remy dibeli dengan total £20 juta. Namun hasilnya nihil. QPR menutup musim dengan sembilan laga tanpa kemenangan dan hanya mengoleksi 25 poin.
17. Southampton (2022/23) – 25 Poin
Ralph Hasenhüttl telah berjasa, namun masa kepemimpinannya mencapai titik jenuh. Ketika ia digantikan Nathan Jones pada November, bencana dimulai.
Jones menjalani salah satu periode kepelatihan paling buruk dalam sejarah Premier League: hanya satu kemenangan dan bertahan selama 95 hari sebelum dipecat. Ruben Selles tampil cukup baik pada akhir musim, tetapi Southampton tetap tidak tertolong.
16. Wolves (2011/12) – 25 Poin
Musim ini dimulai dengan dua kemenangan beruntun—namun berakhir dengan kekacauan total. Terry Connor mengambil alih posisi manajer pada Februari, tetapi gagal meraih satu pun kemenangan.
Kapten baru Roger Johnson bahkan sempat datang ke latihan dalam keadaan mabuk dan diganjar denda. Transfer Jamie O’Hara sebagai pembelian utama juga gagal total.
15. Ipswich Town (1994/95) – 24,4 Poin (disesuaikan untuk musim 38 laga)
Pada masa Premier League masih memiliki 22 tim, Ipswich Town meraih 27 poin dari 42 pertandingan. Setelah disesuaikan, poin itu setara dengan 24,4 poin dalam format 38 pertandingan.
Musim tersebut penuh kontras: mereka mampu mengalahkan Manchester United—yang sedang berjaya—namun juga mengalami kekalahan 0–9 dari United di Old Trafford. Gol yang mereka kebobolan (93 gol) menjadi salah satu yang terburuk sepanjang sejarah EPL.
14. Burnley (2023/24) – 24 Poin
Burnley asuhan Vincent Kompany tampil mengagumkan di Championship, meraih 101 poin dan tampil dinamis. Namun formula itu runtuh di Premier League.
Skuad mereka tidak mampu mengikuti gaya bermain ambisius ala Kompany. Pembelajaran pun terlambat datang, dan Burnley hanya mampu mengumpulkan 24 poin dan finis di posisi ke-19.
13. Sunderland (2016/17) – 24 Poin
Setelah Sam Allardyce mengamankan status Premier League mereka di musim sebelumnya, Sunderland menunjuk David Moyes. Namun ini menjadi salah satu musim paling kelam dalam sejarah klub.
Jermain Defoe menjadi satu-satunya pahlawan, baik di dalam maupun luar lapangan. Namun skuad penuh mantan pemain Everton itu gagal total, dan Sunderland dipastikan turun kasta pada April.

