12. Watford (1999/00) – 24 Poin
Watford memulai musim dengan baik setelah promosi ganda bersama Graham Taylor. Mereka bahkan mengalahkan Liverpool dan Chelsea dalam dua bulan pertama.
Namun setelah kemenangan atas Chelsea, Watford hanya menang tiga kali lagi. Mereka kesulitan mencetak gol dan menutup musim dengan catatan poin terendah EPL saat itu.
11. Watford (2021/22) – 23 Poin
Musim kacau. Dalam satu musim, Watford memakai tiga manajer:
- Xisco (dipecat dalam 2 bulan)
- Claudio Ranieri (mengalahkan Everton dan Man Utd, tetapi tetap buruk)
- Roy Hodgson (2 kemenangan saja)
Dengan performa compang-camping itu, Watford menutup musim dengan 23 poin.
10. Sheffield United (2020/21) – 23 Poin
Setelah finis peringkat 9 yang mengagumkan pada musim sebelumnya, ekspektasi terhadap Sheffield United meningkat. Tapi tampil tanpa penonton selama pandemi membuat segalanya berbeda.
Sheffield United tidak menang hingga Januari, dengan 15 kekalahan dalam 17 laga pertama. Enam kemenangan tidak cukup, karena hanya dua hasil seri, sehingga total poin mereka hanya 23.
9. Norwich City (2021/22) – 22 Poin
Norwich kembali ke Premier League dengan Daniel Farke, tetapi mimpi buruk kembali terulang. Dua laga pertama berakhir 0–3 dan 0–5 dari Liverpool dan Manchester City.
Mereka hanya mencetak 23 gol, punya selisih gol -61, dan tertinggal 16 poin dari zona aman.
8. Norwich City (2019/20) – 21 Poin
Awal musim tampak menjanjikan: mereka mengalahkan Newcastle dan bahkan Manchester City pada lima pekan pertama.
Namun roda mulai lepas: di akhir musim mereka kalah 10 kali beruntun, kebobolan 24 gol dan hanya mencetak 1 gol dalam rentang itu.
7. Sunderland (2002/03) – 19 Poin
Tiga manajer dalam satu musim: Peter Reid, Howard Wilkinson, dan Mick McCarthy.
Hanya satu hasil imbang dalam 17 pertandingan tahun 2003, dan McCarthy tidak meraih satu poin pun setelah datang pada Maret. Sunderland finis 25 poin di bawah Bolton.
6. Portsmouth (2009/10) – 19 Poin
Poin ini disertai catatan: Portsmouth terkena pengurangan 9 poin karena masalah administrasi. Tanpa pengurangan itu, mereka punya 28 poin—tetap juru kunci.
Meski memiliki Kanu, David James, hingga Kevin-Prince Boateng, mereka tidak mampu bertahan. Ironisnya, mereka mencapai final Piala FA tetapi kalah.
5. Aston Villa (2015/16) – 17 Poin
Aston Villa finis 17 poin di bawah peringkat 19, sebuah gambaran betapa buruknya musim ini. Delapan hasil imbang dan hanya tiga kemenangan membuat mereka tak berkutik.
Pertahanan mereka kebobolan 76 gol, dan tak satu pun pertandingan di mana Villa mencetak tiga gol atau lebih.
4. Huddersfield Town (2018/19) – 16 Poin
Musim pertama berjalan mulus: mereka finis peringkat 16. Musim kedua, bencana datang.
Setelah kalah 1–6 dari Man City di pekan kedua, Huddersfield hanya menang tiga kali sepanjang musim, mencetak 22 gol dan kebobolan 76.
3. Sheffield United (2023/24) – 16 Poin
Musim ini menjadi musim terburuk Sheffield United. Mereka kebobolan 100 gol, kalah 0–8 dari Newcastle, dan kebobolan lima gol atau lebih dalam tujuh pertandingan berbeda.
Chris Wilder kembali untuk menstabilkan situasi, namun tidak ada yang bisa diselamatkan.
2. Sunderland (2005/06) – 15 Poin
Mick McCarthy kembali menjajal Premier League bersama Sunderland, namun hasilnya tetap tragis. Setelah hanya dua kemenangan, ia dipecat pada Februari.
Caretaker Kevin Ball gagal membalikkan keadaan, dan Sunderland menutup musim dengan hanya tiga kemenangan. Hasil terbaik mereka hanyalah imbang 0–0 di Old Trafford.
1. Derby County (2007/08) – 11 Poin
Rekor terburuk Premier League—dan kemungkinan akan bertahan selamanya. Derby hanya memenangkan satu pertandingan sepanjang musim, 1–0 atas Newcastle.
Mereka kebobolan enam gol dalam empat laga terpisah, mencetak 20 gol dan kebobolan 89. Kenny Miller menjadi top skor klub dengan hanya empat gol.
Prestasi buruk ini membuat Derby County tercatat sebagai tim dengan poin paling sedikit dalam sejarah Premier League.

