10. Sergi Roberto – Barcelona vs Paris Saint-Germain (2017)
Barcelona pernah menjadi korban comeback, tetapi kali ini mereka yang menulis sejarah. Setelah kalah 0-4 di leg pertama babak 16 besar Liga Champions 2016/17, peluang mereka nyaris nihil. Namun di Camp Nou, semangat Blaugrana menyala kembali.
Neymar mencetak dua gol di penghujung laga, termasuk penalti di masa tambahan waktu, sebelum memberikan umpan silang yang disambar Sergi Roberto di menit ke-96. Gol itu melengkapi kemenangan 6-1 sekaligus agregat 6-5 — sebuah keajaiban sepak bola yang tak akan pernah terlupakan.
9. Lucas Moura – Tottenham Hotspur vs Ajax (2019)
Satu malam setelah Liverpool menyingkirkan Barcelona, Tottenham menulis dongengnya sendiri di Amsterdam. Setelah kalah di leg pertama, Spurs tertinggal 0-2 di babak pertama leg kedua dan membutuhkan tiga gol tandang.
Lucas Moura mencetak dua gol cepat di babak kedua, tetapi waktu hampir habis. Hingga pada detik terakhir masa tambahan, bola liar jatuh di kakinya — dan gol ketiganya membawa Tottenham ke final Liga Champions. Sebuah malam yang menegangkan dan penuh air mata kebahagiaan.
8. Joselu – Real Madrid vs Bayern Munich (2024)
Bukan Bellingham, bukan Vinícius, melainkan Joselu — pemain pinjaman yang jadi pahlawan. Pada semifinal Liga Champions 2023/24, Bayern unggul 1-0 hingga menit ke-88 di Bernabéu.
Namun Neuer melakukan kesalahan fatal, dan Joselu menyambar bola untuk menyamakan kedudukan. Hanya tiga menit berselang, ia kembali mencetak gol kemenangan di masa injury time. Awalnya dianulir, tetapi VAR mengesahkannya. Real Madrid pun melangkah ke final dengan cara paling dramatis.
7. Rodrygo – Real Madrid vs Manchester City (2022)
Dua tahun sebelum Joselu, Bernabéu sudah menjadi saksi kebangkitan ajaib lain. Tertinggal 0-1 hingga menit ke-89 dari Manchester City, Madrid tampak tersingkir.
Namun dua gol cepat Rodrygo di menit ke-90 dan 91 membalikkan situasi dalam sekejap. Benzema kemudian mencetak penalti di perpanjangan waktu, memastikan tiket ke final dan memperkuat reputasi Madrid sebagai raja comeback Eropa.
6. Patrik Andersson – Bayern Munich vs Hamburg (2001)
Sebelum momen “Aguerooo!”, ada Patrik Andersson. Di pekan terakhir Bundesliga 2000/01, Bayern tertinggal 0-1 hingga masa injury time sementara Schalke merayakan gelar di stadion lain.
Namun pada menit ke-94, Andersson mencetak gol lewat tendangan bebas tidak langsung di dalam kotak penalti. Gol itu membuat Bayern menahan Hamburg 1-1 — cukup untuk merampas gelar dari Schalke dan memperpanjang dominasi mereka di Jerman.
5. Jimmy Glass – Carlisle United vs Plymouth Argyle (1999)
Kadang, keajaiban datang dari sosok yang tak terduga. Pada laga terakhir Divisi Tiga Inggris 1998/99, Carlisle United butuh kemenangan untuk bertahan di Football League.
Di menit akhir injury time, kiper pinjaman Jimmy Glass naik membantu serangan.
Bola pantul jatuh di depannya, dan ia mencetak gol penentu kemenangan. Carlisle selamat dari degradasi, sementara Scarborough terdegradasi. Sebuah momen heroik dari seorang penjaga gawang.
4. Toby Alderweireld – Royal Antwerp vs Genk (2023)
Liga Belgia 2022/23 berakhir dengan kisah yang bak sinetron. Genk unggul 2-1 dan hampir memastikan gelar, tetapi di masa injury time, Toby Alderweireld — bek yang pulang ke klub masa kecilnya — melepaskan tembakan jarak jauh yang bersarang di pojok atas gawang.
Gol menit ke-94 itu mengubah segalanya: Antwerp menjadi juara liga untuk pertama kalinya sejak 1957. Sebuah akhir musim yang benar-benar tak masuk akal.
3. Ole Gunnar Solskjær – Manchester United vs Bayern Munich (1999)
Final Liga Champions 1999 menjadi malam paling bersejarah bagi Manchester United. Tertinggal sejak menit ke-6, United bangkit di masa injury time.
Teddy Sheringham menyamakan skor di menit ke-91, lalu 30 detik kemudian, Ole Gunnar Solskjær mencetak gol kemenangan dari jarak dekat. Dua gol dalam dua menit yang memastikan treble bersejarah bagi Sir Alex Ferguson dan mengukuhkan status United sebagai legenda Eropa.
2. Michael Thomas – Arsenal vs Liverpool (1989)
Sebelum era Premier League, inilah penentuan gelar paling menegangkan di Inggris. Arsenal harus menang dua gol tanpa balas di Anfield untuk merebut gelar dari Liverpool.
Menit ke-91, Michael Thomas menusuk dari tengah dan menaklukkan Bruce Grobbelaar, memberi Arsenal gelar liga pertama dalam 18 tahun.
Gol itu bukan hanya menentukan juara, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan sepak bola Inggris pasca tragedi Hillsborough.
1. Sergio Agüero – Manchester City vs Queens Park Rangers (2012)
Tak ada comeback yang lebih ikonik dari “Aguerooooo!”. Di pekan terakhir Premier League 2011/12, City butuh kemenangan atas QPR untuk meraih gelar.
Namun mereka tertinggal 1-2 hingga menit ke-91. Edin Džeko menyamakan kedudukan, sebelum Mario Balotelli mengirim umpan kepada Sergio Agüero. Sang striker Argentina menggiring bola dan menembak — gol!
Etihad meledak. Manchester United terpukul. Dan Manchester City resmi menjadi juara untuk pertama kalinya sejak 1968, hanya lewat detik-detik terakhir musim.
Dari Camp Nou hingga Anfield, dari Bernabéu hingga Etihad, comeback-comeback ini membuktikan bahwa sepak bola adalah permainan yang belum selesai sampai peluit terakhir berbunyi.
Detik-detik terakhir itu bukan sekadar tambahan waktu — mereka adalah momen di mana legenda lahir dan sejarah ditulis ulang.

