Marcus Rashford tengah menikmati masa-masa kebangkitan di Spanyol. Bergabung dengan Barcelona sebagai pemain pinjaman dari Manchester United, penyerang asal Inggris itu langsung memberikan dampak nyata. Dua gol indahnya ke gawang Newcastle United di laga Liga Champions pekan ini seolah menjadi pernyataan bahwa dirinya sedang memasuki babak baru yang lebih matang dalam kariernya.
Namun, di balik penampilan impresif tersebut, masa depan Rashford di Barcelona justru dibayangi awan gelap. Sebuah aturan ketat dari LaLiga kini menjadi batu sandungan serius dalam upaya Barcelona mempermanenkan status Rashford.
LaLiga telah mengumumkan bahwa batas gaji klub untuk musim 2025–2026 akan dipangkas drastis. Bagi Barcelona, ini berarti pengurangan limit pengeluaran dari €463 juta menjadi hanya €351 juta. Ini merupakan sebuah penurunan tajam senilai €112 juta yang mengubah peta keuangan klub secara signifikan.
Aturan Baru LaLiga: Penghematan Wajib, Bukan Pilihan
Menurut laporan dari Daily Mail dan The Athletic, regulasi baru tersebut merupakan hasil dari tinjauan keuangan ketat yang dilakukan otoritas LaLiga terhadap klub-klub peserta. Presiden LaLiga, Javier Tebas, menegaskan bahwa pemangkasan ini bertujuan menjaga stabilitas keuangan kompetisi, sekaligus mencegah klub mengeluarkan dana di luar batas kemampuan mereka.
Artinya, jika Barcelona ingin mempermanenkan Rashford yang memiliki nilai pasar tinggi dan tentu gaji besar, maka mereka harus terlebih dahulu mengurangi beban finansial di pos lainnya. Entah itu dengan menjual pemain, memangkas gaji skuad saat ini, atau membuka sumber pendapatan baru.
Kondisi Keuangan Barcelona Masih Bergejolak
Kondisi keuangan Barcelona memang sudah lama menjadi sorotan. Setelah kepergian Lionel Messi pada 2021 akibat ketidakmampuan klub memenuhi batas gaji, berbagai langkah darurat dilakukan. Salah satunya adalah penjualan hak siar dan pendapatan masa depan. Termasuk kesepakatan kontroversial terkait 25 tahun pendapatan dari 475 kotak eksekutif di Camp Nou.
Namun kini, auditor internal klub menyatakan bahwa sebagian dari pendapatan tersebut tidak boleh lagi dimasukkan dalam laporan keuangan. Hal ini menyebabkan Barcelona kehilangan estimasi sekitar €100 juta dalam kalkulasi pendapatan tahunan dan memperburuk situasi neraca mereka.
Tambahan lagi, renovasi besar-besaran Camp Nou senilai £1,25 miliar memaksa tim untuk mengungsi ke Stadion Olimpiade Montjuïc. Dampaknya, pendapatan hari pertandingan menurun drastis karena kapasitas stadion yang lebih kecil dan rendahnya penjualan tiket VIP.
Rashford: Bahagia di Spanyol, Tapi Masih Menggantung
Disisi lain, Marcus Rashford sendiri menunjukkan ketertarikan besar untuk bertahan di Barcelona. Pemain berusia 27 tahun itu merasa telah menemukan kembali bentuk terbaiknya setelah musim-musim sulit bersama Manchester United.
Gaya bermain Barcelona yang berbasis penguasaan bola, pressing tinggi, dan permainan kolektif tampaknya cocok dengan karakter Rashford. Ia diberi kebebasan lebih dalam menyerang, namun tetap didukung oleh sistem yang kuat.
Sementara itu, sumber internal dari klub menyebutkan bahwa Barcelona belum menyerah. Meskipun limit gaji diperketat. Mereka percaya bahwa kembalinya tim ke Camp Nou pada pertengahan musim depan akan memulihkan arus kas dan meningkatkan pendapatan secara signifikan.
Selain itu, manajemen juga berharap bisa menegosiasikan ulang kesepakatan penjualan kotak VIP serta menjalin kerja sama sponsor baru yang dapat menginjeksi dana segar ke klub. Presiden Joan Laporta juga dikenal cukup lihai dalam menyusun skema keuangan kreatif, sebagaimana terbukti saat mendatangkan Joao Felix dan Ilkay Gündogan meskipun tengah dalam krisis.
Namun, waktu terus berjalan. Rashford hanya dipinjam selama satu musim. Dan jika kesepakatan permanen tidak tercapai sebelum bursa transfer musim panas 2026, maka ia harus kembali ke Old Trafford. Hal ini tentu bukan skenario ideal bagi kedua belah pihak.

