rama besar mewarnai gelaran MotoGP Catalunya 2026 di Sirkuit Barcelona-Catalunya, Montmelo, Spanyol. Balapan yang berlangsung penuh insiden itu memicu kritik keras dari pebalap Red Bull KTM, Pedro Acosta. Terlebih, pada keputusan Race Director yang tetap melanjutkan lomba meski sudah terjadi dua kali red flag dan sejumlah kecelakaan serius.
Pebalap muda asal Murcia, Spanyol, itu menilai keputusan untuk menggelar hingga tiga kali restart merupakan tindakan yang berlebihan. Selain itu, keputusan tersebut dinilai mengesampingkan aspek keselamatan para pebalap demi menjaga jalannya pertunjukan balap.
Acosta sebenarnya tampil impresif pada awal balapan. Pebalap berjuluk The Shark of Mazarron itu sempat memimpin jalannya race sebelum motornya, KTM RC16, mengalami masalah teknis serius di pertengahan lomba. Kerusakan mekanis tersebut membuat Acosta kehilangan kendali dan terjatuh dengan keras di lintasan.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Alex Marquez yang berada tepat di belakangnya gagal menghindari motor Acosta. Tabrakan keras tak terelakkan dan membuat pebalap Gresini Racing itu terpental hingga menghantam pembatas sirkuit. Insiden mengerikan tersebut langsung memaksa marshal mengibarkan bendera merah atau red flag.
Tak hanya Alex Marquez, pebalap LCR Honda Johann Zarco juga mengalami kecelakaan parah pada sesi yang sama. Kedua rider tersebut bahkan harus mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Catalunya akibat cedera yang dialami.
Meski kondisi lintasan dan situasi balapan dinilai sudah tidak kondusif, pihak Race Director tetap memutuskan melanjutkan balapan melalui restart tambahan. Keputusan inilah yang kemudian memancing reaksi keras dari Pedro Acosta usai lomba berakhir.
Acosta Desak Regulasi Keselamatan Diperketat
Dalam wawancaranya kepada media MotoGP dan dikutip dari GPOne, Acosta menyebut keselamatan pebalap seharusnya menjadi prioritas utama dibanding mempertahankan tontonan bagi penonton.
“Tidak perlu sampai ada tiga kali restart ketika kita sudah mengalami dua kali red flag, saat sudah ada dua pebalap di rumah sakit, dan ketika tiga atau empat pebalap lainnya juga berjatuhan,” ujar Acosta
Menurutnya, dunia balap modern terlalu sering menggunakan filosofi the show must go on tanpa mempertimbangkan risiko besar yang dihadapi para rider di lintasan. Acosta menilai para pebalap bukan sekadar bagian hiburan, melainkan atlet yang mempertaruhkan keselamatan setiap kali memacu motor di atas kecepatan 300 kilometer per jam.
Pebalap KTM tersebut juga mengaku sangat frustrasi karena insiden awal yang dialaminya bukan disebabkan kesalahan pribadi, melainkan murni akibat kegagalan mekanis pada motor. Situasi itu membuatnya merasa tidak memiliki kendali atas apa yang terjadi.
Setelah sempat mengikuti restart, nasib Acosta kembali kurang beruntung. Ia gagal finis usai bersenggolan dengan Ai Ogura pada dua tikungan terakhir menjelang garis akhir. Namun, hasil balapan bukan menjadi fokus utamanya setelah race selesai.
Acosta justru lebih menyoroti perlunya regulasi yang lebih tegas terkait penghentian balapan ketika situasi dianggap membahayakan. Ia bahkan mengusulkan agar MotoGP memiliki aturan permanen untuk menghentikan lomba setelah red flag kedua terjadi.
“Menurut saya harus ada aturan yang jelas: setelah red flag kedua, kita tidak perlu balapan lagi. Titik,” ujar Acosta dengan nada tegas.
Pernyataan Pedro Acosta tersebut kini menjadi sorotan besar di paddock MotoGP. Banyak pihak mulai mempertanyakan keseimbangan antara kepentingan hiburan, jadwal siaran televisi, dan keselamatan pebalap di ajang balap motor paling bergengsi di dunia itu.
MotoGP Catalunya 2026 pun dipastikan akan dikenang bukan hanya karena dramanya di lintasan, tetapi juga perdebatan panas mengenai batas keselamatan dalam olahraga balap modern.

