Olahraga lari kini bukan sekadar rutinitas olahraga pagi. Ia telah menjelma menjadi gaya hidup baru masyarakat urban. Tak butuh lapangan besar, tak perlu alat rumit—cukup sepasang sepatu dan niat kuat. Tak heran, event-event lari kini bermunculan di mana-mana, mulai dari fun run santai hingga marathon berlevel internasional.
Tapi pernahkah Kawan bertanya, sebenarnya ada berapa banyak event lari di Indonesia? Dan seberapa besar dampaknya bagi ekonomi daerah? Jawabannya ternyata mengejutkan.
558 Event Lari Digelar Sepanjang 2025
Data Jadwal Lari Indonesia mencatat, sepanjang tahun 2025 ada 558 event lari yang diselenggarakan di berbagai penjuru Tanah Air. Jumlah ini naik 100 event dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat 458 ajang. Lonjakan ini menjadi bukti bahwa gairah lari di Indonesia terus menyala.
Mulai dari kota metropolitan seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, hingga daerah wisata seperti Lombok dan Labuan Bajo, semua berlomba menjadi tuan rumah event lari. Tak jarang, peserta bahkan harus “war slot” karena kuotanya terbatas dan antusiasmenya tinggi.
Kategori yang ditawarkan pun beragam, mulai dari 5K, 10K, Half Marathon, hingga Full Marathon, bahkan Ultra Marathon untuk pelari ekstrem. November tercatat sebagai bulan paling padat dengan 112 event lari di seluruh Indonesia—menandakan puncak semangat pelari sebelum libur akhir tahun.
Olahraga yang Menggerakkan Ekonomi Daerah
Di balik keringat dan semangat itu, event lari ternyata punya dampak ekonomi luar biasa. Di setiap kota yang jadi tuan rumah, ribuan pelari datang membawa potensi perputaran uang yang besar.
Contohnya, BTN Jakarta International Marathon (BTN JAKIM) 2025 menghasilkan dampak ekonomi hingga Rp127,1 miliar, berkat partisipasi 31.000 pelari dari 53 negara. Sementara Jakarta Running Festival 2025 yang diikuti 27.300 pelari, juga memicu aktivitas ekonomi besar lewat bazar jenama lokal dan festival kuliner yang digelar bersamaan.
Tak hanya di ibu kota, di luar Jawa pun geliat ekonominya terasa. Maybank Marathon 2025 di Bali mencatat dampak ekonomi mencapai Rp170,8 miliar, meningkat signifikan dari Rp125 miliar pada tahun sebelumnya. Lalu, Pocari Sweat Run Lombok 2025 di Sirkuit Mandalika memperkirakan perputaran uang hingga Rp100 miliar.
Dari Garmen hingga UMKM, Semua Kebagian Manfaat
Ribuan peserta yang datang tentu membawa aktivitas konsumsi besar. Mulai dari tiket pesawat, transportasi lokal, hotel, restoran, hingga belanja pernak-pernik olahraga—semuanya ikut menggeliat. Industri besar dan UMKM sama-sama merasakan manfaat.
Produsen sepatu, kaus, hingga pedagang makanan di pinggir jalan, semuanya kecipratan rezeki. Di sinilah lari menjadi lebih dari sekadar olahraga: ia adalah penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata lokal.
Di tengah tren gaya hidup sehat, event-event lari telah menjadi ruang pertemuan antara semangat olahraga dan ekonomi. Sebuah bukti bahwa ketika masyarakat berlari bersama, Indonesia pun ikut bergerak lebih maju.

