Drama Premier League musim 2024–2025 kini resmi berakhir, namun tanggal 26 Mei menjadi momen tepat untuk mengenang beberapa momen injury time paling dramatis yang pernah terjadi dalam sejarah sepak bola dunia.
Musim ini, Liverpool berhasil merebut kembali tahta Premier League dengan dominasi yang tak terbantahkan—meninggalkan Arsenal jauh di belakang. Namun, tepat 36 tahun lalu pada tanggal yang sama, The Gunners justru membuat Anfield berselimut warna merah yang berbeda.
Pada 26 Mei 1989, Arsenal datang ke markas Liverpool dengan misi mustahil: menang dengan selisih dua gol untuk merebut gelar juara First Division (sebelum era Premier League). Namun keajaiban benar-benar terjadi ketika Michael Thomas mencetak gol penentu di detik-detik akhir pertandingan—sebuah penyelesaian dingin yang masih diingat hingga kini.
Sepuluh tahun kemudian, tepat pada 26 Mei 1999, giliran Ole Gunnar Solskjaer yang mengukir sejarah serupa. Penyerang asal Norwegia itu mencetak gol kemenangan di menit akhir final Liga Champions, mengantarkan Manchester United meraih treble bersejarah dengan mengalahkan Bayern Munich di Camp Nou.
Untuk merayakan dua momen luar biasa tersebut, kami menghadirkan daftar 20 gol injury time paling dramatis dalam sejarah sepak bola—gol-gol yang mengubah nasib tim, merebut gelar, dan membekas di ingatan jutaan penggemar di seluruh dunia.
Drama terbesar dalam sepak bola sering kali terjadi di saat-saat paling tak terduga. Dari gol penentu di detik terakhir hingga kebangkitan mustahil di kompetisi paling bergengsi, sepak bola telah menghadirkan momen yang membuat dunia terpana.
Sepuluh kisah berikut ini adalah bukti bahwa selama peluit akhir belum dibunyikan, keajaiban selalu mungkin terjadi di lapangan hijau.
Baik! Berikut versi artikel Bahasa Indonesia yang ditulis ulang dengan format yang sama seperti artikel “Inggris vs Wales” sebelumnya — lengkap dengan subjudul per poin (nomor 20–11), gaya feature sepak bola profesional, dan bahasa yang natural serta sesuai EYD.
20. Lionel Messi – Barcelona vs Real Madrid (2017)
Dari sekian banyak gol yang dicetak Lionel Messi sepanjang kariernya, mungkin hanya sedikit yang memberikan kepuasan sebesar momen di Santiago Bernabéu ini.
Barcelona datang ke markas Real Madrid dalam kondisi tertinggal tiga poin di klasemen dan telah memainkan satu laga lebih banyak. Kekalahan akan mengakhiri peluang mereka mempertahankan gelar, sementara hasil imbang pun masih menguntungkan Madrid.
Setelah James Rodríguez menyamakan kedudukan pada menit ke-85—usai Sergio Ramos diusir keluar lapangan—Messi menorehkan sejarah.
Ia mencetak gol ke-500-nya untuk Barcelona di menit ke-92 lewat penyelesaian klinis ke sudut bawah gawang, membawa Blaugrana menang 3-2 dan kembali ke puncak klasemen.
Meski pada akhirnya Real Madrid tetap keluar sebagai juara, momen itu menjadi salah satu El Clásico paling bersejarah di era modern.
19. Dejan Lovren – Liverpool vs Borussia Dortmund (2016)
Dalam laga perempat final Liga Europa yang penuh emosi di Anfield, Liverpool menulis salah satu kisah comeback paling luar biasa di Eropa. Setelah imbang 1-1 di leg pertama, The Reds tertinggal 0-2 hanya dalam 10 menit laga kedua lewat gol Henrikh Mkhitaryan dan Pierre-Emerick Aubameyang.
Liverpool bangkit perlahan—Divock Origi memperkecil ketertinggalan, namun Marco Reus kembali membawa Dortmund unggul 3-1 agregat.
Dengan tiga gol dibutuhkan dalam 30 menit terakhir, pasukan Jürgen Klopp menunjukkan semangat khas Anfield. Philippe Coutinho dan Mamadou Sakho menyamakan kedudukan, dan di menit ke-91, Dejan Lovren menanduk bola hasil umpan Milner untuk memastikan kemenangan 4-3 yang mengguncang stadion.
Liverpool akhirnya lolos ke final, meski harus kalah dari Sevilla.
18. Steve Bruce – Manchester United vs Sheffield Wednesday (1993)
Tanpa gol Steve Bruce di menit ke-96 ini, mungkin Manchester United tak akan membangun dinasti kejayaan seperti yang kita kenal hari ini. Dalam musim perdana Premier League, United bersaing ketat dengan Aston Villa dalam perebutan gelar. Saat tertinggal 0-1 dari Sheffield Wednesday di Old Trafford, mereka tampak kehilangan harapan.
Namun Bruce mencetak gol penyeimbang di menit ke-86, lalu menutup malam luar biasa itu dengan sundulan keras di menit ke-96.
Sir Alex Ferguson dan asistennya, Brian Kidd, melompat ke lapangan dalam euforia—lahirlah istilah legendaris: Fergie Time. United kemudian menjuarai Premier League untuk pertama kalinya, membuka era dominasi dua dekade berikutnya.
17. Kelvin – FC Porto vs Benfica (2013)
Persaingan klasik dua raksasa Portugal mencapai klimaks dramatis di Estádio do Dragão. Porto dan Benfica sama-sama mengincar gelar, dengan Benfica unggul dua poin dan hanya membutuhkan hasil imbang.
Namun di menit ke-91, pemain muda 19 tahun bernama Kelvin—yang sebelumnya bermain di tim cadangan—muncul sebagai pahlawan. Tendangan kerasnya dari sudut sempit menembus gawang Benfica dan mengubah arah perburuan gelar secara drastis.
Porto pun melangkah menjadi juara seminggu kemudian. Uniknya, itu menjadi satu-satunya gol liga Kelvin untuk klub.
16. David Gray – Hibernian vs Rangers (Final Piala Skotlandia 2016)
Setelah 114 tahun tanpa trofi Piala Skotlandia, Hibernian akhirnya memecahkan kutukan dengan cara paling dramatis. Menghadapi Rangers yang sudah 30 kali juara, Hibs unggul cepat namun tertinggal 1-2 sebelum Anthony Stokes menyamakan skor di menit ke-80.
Saat laga tampak menuju perpanjangan waktu, kapten David Gray menanduk bola hasil sepak pojok di menit ke-92 dan mengantarkan kemenangan 3-2. Gol itu menjadi salah satu dari hanya 15 gol sepanjang kariernya—tetapi yang paling bersejarah bagi klub dan para penggemar Hibs.
15. Ben Watson – Wigan Athletic vs Manchester City (Final Piala FA 2013)
Final Piala FA 2013 mempertemukan dua tim dengan nasib kontras: Manchester City, juara Premier League dan penuh bintang, melawan Wigan Athletic, tim kecil yang berjuang di zona degradasi.
Pertandingan berjalan imbang hingga menit akhir, dan tampak akan berlanjut ke perpanjangan waktu. Namun di menit ke-91, sepak pojok Wigan menghasilkan keajaiban.
Ben Watson, yang baru pulih dari cedera panjang, menyambut bola dengan sundulan tajam untuk memastikan kemenangan 1-0.
Itu menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah final Piala FA—dan satu-satunya trofi besar Wigan sepanjang masa.
14. Alisson Becker – Liverpool vs West Brom (2021)
Gol dari kiper di menit akhir adalah kejadian langka, tetapi Alisson Becker melakukannya pada momen paling krusial. Liverpool membutuhkan kemenangan demi peluang finis di empat besar. Saat skor masih 1-1 di menit ke-95, Alisson maju membantu serangan terakhir.
Tendangan sudut Trent Alexander-Arnold disambut sundulan sempurna sang kiper asal Brasil—gol yang membawa kemenangan 2-1 bagi Liverpool. Ia kemudian mempersembahkan gol itu untuk mendiang ayahnya yang baru meninggal.
Gol ini bukan hanya bersejarah karena unik, tapi juga membantu Liverpool lolos ke Liga Champions musim berikutnya.
13. Troy Deeney – Watford vs Leicester City (Playoff Championship 2013)
Drama tak terduga di Vicarage Road ini menjadi salah satu momen paling gila dalam sejarah sepak bola Inggris. Leicester mendapat penalti di masa injury time untuk memastikan tiket ke final playoff, tetapi Manuel Almunia menggagalkan dua kali tendangan Anthony Knockaert.
Hanya dalam hitungan detik, Watford melakukan serangan balik cepat. Bola jatuh ke kaki Troy Deeney, yang melepaskan tembakan keras ke gawang lawan di menit ke-97.
Stadion pun meledak dalam euforia. Momen ini memperlihatkan betapa cepatnya nasib bisa berubah dalam sepak bola—dari penalti promosi menjadi kekalahan memilukan.
12. James Coppinger – Doncaster Rovers vs Brentford (2013)
Dua minggu sebelum drama Watford–Leicester, kisah serupa terjadi di divisi bawah.
Brentford dan Doncaster sama-sama bersaing memperebutkan promosi otomatis ke Championship. Brentford mendapat penalti di masa tambahan, yang bisa memastikan promosi mereka—namun Marcello Trotta gagal mengeksekusinya karena bola membentur mistar.
Dalam hitungan detik, Doncaster melakukan serangan balik cepat. James Coppinger mencetak gol kemenangan di menit ke-94, bukan hanya mengamankan promosi, tetapi juga gelar juara League One. Momen ini dikenal sebagai salah satu penentuan promosi paling dramatis dalam sejarah sepak bola Inggris.
11. Andrés Iniesta – Barcelona vs Chelsea (2009)
Chelsea memimpin 1-0 di Stamford Bridge dan bersiap melangkah ke final, apalagi Barcelona bermain dengan 10 orang. Namun di masa injury time, Andrés Iniesta memutarbalikkan segalanya.
Menerima bola di tepi kotak penalti, ia menembak dengan luar kaki ke pojok atas gawang Petr Čech. Gol itu menghapus harapan Chelsea dan membawa Barcelona ke final, di tengah kontroversi besar soal keputusan wasit Tom Henning Øvrebø.
Barcelona kemudian menjuarai Liga Champions di Roma, dan gol Iniesta dianggap sebagai awal dari era kejayaan tim terbaik dalam sejarah klub.

