Dunia sepak bola Eropa terkenal kejam, terutama bagi para pelatih. Tak peduli seberapa cemerlang rekam jejaknya, satu hasil buruk atau konflik internal bisa mengakhiri karier seorang manajer dalam sekejap.
Di tengah tekanan media, ekspektasi fans, dan ambisi klub, beberapa pelatih sepak bola ini bahkan tak sempat menyelesaikan bulan pertama mereka sebelum dipecat. Berikut adalah 10 pelatih sepak bola dengan pemecatan tercepat di Eropa.
1. Erik ten Hag – Bayer Leverkusen (2025)
Pelatih asal Belanda ini masuk ke Leverkusen usai sukses moderat di Manchester United. Namun segalanya berantakan sejak awal. Tur pramusim yang kontroversial ke Brasil, hasil buruk di Bundesliga, dan konflik internal membuat Ten Hag dipecat bahkan sebelum jeda internasional pertama musim ini. Ia hanya memimpin dua pertandingan liga atau Masa jabatan 62 hari.
2. Gennaro Gattuso – Valencia (2022)
Gattuso dikenal sebagai sosok pelatih sepak bola yang penuh emosi, dan gaya itu tak cocok dengan suasana di Valencia. Meski punya visi menyerang, hasil di lapangan tak mendukung. Ketegangan dengan dewan klub dan hasil buruk di La Liga membuat Gattuso hanya bertahan setengah musim atau dengan masa jabatan hanya 6 bulan. Pemecatannya diumumkan lewat pernyataan singkat, mencerminkan ketegangan di balik layar.
3. Frank de Boer – Crystal Palace (2017)
Frank De Boer diharapkan membawa filosofi sepak bola total ke Premier League. Tapi kenyataan berkata lain. Ia kalah dalam empat laga awal liga tanpa mencetak satu gol pun. Palace langsung bertindak. Keputusan ini menuai kritik, tetapi terbukti efektif. Pengganti Roy Hodgson berhasil menyelamatkan mereka dari degradasi. Bersama Crystal Palace, Frank De Boer hanya bertahan dengan masa jabatan 77 hari (4 pertandingan Premier League).
4. Julen Lopetegui – Real Madrid (2018)
Mantan pelatih timnas Spanyol ini sudah bermasalah sejak awal. Ia dipecat dari La Roja karena negosiasi diam-diam dengan Madrid sebelum Piala Dunia 2018. Di Madrid, ia kesulitan mengisi lubang yang ditinggalkan Cristiano Ronaldo. Kekalahan 1–5 dari Barcelona di El Clásico menjadi pukulan telak yang membuatnya lengser hanya dalam 14 pertandingan liga atau masa jabatan 4,5 bulan.
5. Paolo Di Canio – Sunderland (2013)
Paolo Di Canio adalah sosok kontroversial di dalam dan luar lapangan. Di Canio hanya memenangkan tiga dari 13 pertandingan sebagai manajer Sunderland. Pemain tidak menyukai metode kepelatihannya yang keras. Suasana ruang ganti memburuk dan dewan klub tak punya pilihan selain memecatnya meski musim baru saja dimulai. Bersama klub tersebut ia hanya bertahan dengan masa jabatan 175 hari.
6. Les Reed – Charlton Athletic (2006)
Sering disebut sebagai “pelatih terburuk dalam sejarah Premier League” oleh media Inggris, Reed hanya memimpin Charlton dalam 7 pertandingan atau masa jabatan 41 hari dan memenangkan satu pertandingan. Klub yang sedang terpuruk memilih menggantinya dengan Alan Pardew sebelum situasi memburuk.
7. Christian Gross – Tottenham Hotspur (1997–98)
Gross datang dari Swiss dan membawa tiket kereta bawah tanah London saat presentasi pertamanya. Ketidakcocokan budaya, bahasa, dan gaya bermain membuatnya cepat kehilangan ruang ganti. Spurs hanya menang 3 dari 10 laga pertama di bawah asuhannya. Total ia hanya bertahan dengan masa jabatan 9 bulan dengan hanya 3 bulan musim kompetisi penuh.
8. Gian Piero Gasperini – Inter Milan (2011)
Inter merekrut Gasperini dengan harapan bisa membawa filosofi menyerangnya. Tapi hasil berbicara dengan torehan satu imbang dan empat kekalahan di lima laga awal. Kekalahan dari tim promosi Novara menjadi akhir dari masa jabatan terpendek dalam sejarah klub dengan hanya lima pertandinga.
9. René Meulensteen – Fulham (2013–14)
Mantan asisten Sir Alex Ferguson ini dipercaya menyelamatkan Fulham dari degradasi. Sayangnya, ia tak bisa membawa perubahan signifikan. Fulham akhirnya menunjuk Felix Magath, dan Meulensteen kehilangan pekerjaannya hanya dua bulan setelah ditunjuk.
10. André Villas-Boas – Chelsea (2011–12)
Pelatih sepak bola muda berbakat asal Portugal ini dianggap penerus Mourinho. Tapi ego besar dan hubungan buruk dengan pemain senior seperti Lampard dan Drogba membuatnya kehilangan kendali. Meski memimpin klasemen awal musim, performa menurun drastis dan ia dipecat sebelum Chelsea akhirnya menjuarai Liga Champions di bawah Roberto Di Matteo.

