Kejuaraan Dunia BWF 2025 dipastikan akan berlangsung mulai 25 hingga 31 Agustus 2025 di Adidas Arena, Paris, Prancis. Turnamen ini bukan sekadar kompetisi tahunan biasa, tetapi merupakan ajang paling bergengsi dalam kalender bulutangkis dunia selain Olimpiade.
Sebanyak 11 wakil Indonesia akan bertarung membawa nama Merah Putih di panggung dunia. Namun sebelum menyaksikan perjuangan mereka di Paris, menarik untuk mengenal lebih jauh mengenai sejarah dan format Kejuaraan Dunia BWF, serta bagaimana turnamen ini menjadi momen penting dalam karier para atlet bulutangkis dunia.
Sejarah Kejuaraan Dunia BWF
Kejuaraan Dunia BWF pertama kali digelar pada 1977 di Malmo, Swedia. Meski bisa dibilang “baru” dibandingkan dengan turnamen seperti All England yang sudah ada sejak awal abad ke-20, BWF World Championship dengan cepat menjelma menjadi ajang pembuktian tertinggi untuk pemain dan pasangan individu terbaik di dunia.
Sebelum adanya Kejuaraan Dunia, ajang seperti All England sering dianggap sebagai kejuaraan dunia tidak resmi. Namun, dengan hadirnya turnamen resmi BWF, dunia bulutangkis akhirnya memiliki panggung prestisius yang diakui secara global.
Hingga tahun 2025, Kejuaraan Dunia BWF telah digelar sebanyak 28 kali, dengan edisi ke-29 kali ini menjadi penanda komitmen BWF dalam memperluas jangkauan olahraga ini ke berbagai belahan dunia. Kali ini, Paris, salah satu kota paling ikonik di Eropa, mendapat kehormatan menjadi tuan rumah.
Format Pertandingan
Kejuaraan badminton Dunia menggunakan sistem gugur (knockout), sama seperti turnamen individu BWF World Tour lainnya. Setiap pertandingan dimainkan dengan format best of three (terbaik dari tiga gim) hingga 21 poin rally point.
Namun ada satu hal yang membedakan Kejuaraan Dunia dengan turnamen lain seperti Indonesia Open atau All England, yakni peserta tidak mendaftar secara mandiri, melainkan harus mendapatkan undangan dari BWF.
Undangan tersebut diberikan berdasarkan peringkat dunia (world ranking) yang ditetapkan pada tanggal tertentu. Untuk edisi 2025, BWF menggunakan peringkat per 29 April 2025 sebagai acuan.
Dahulu, satu negara bisa mengirimkan lebih dari empat wakil di satu sektor. Namun sejak 2010, BWF mulai membatasi jumlah peserta maksimal dari satu negara menjadi empat wakil per sektor, dan hanya jika mereka memenuhi syarat ranking tertentu.
Lebih jauh, BWF juga mengalokasikan jatah peserta untuk lima konfederasi besar, yaitu Asia, Eropa, Afrika, Oseania, dan Pan-Amerika. Hal ini bertujuan agar turnamen menjadi lebih inklusif dan memberi peluang bagi negara-negara berkembang dalam bulutangkis.
Poin dan Gelar Bergengsi
Selain prestise dan sorotan dunia, Kejuaraan Dunia BWF juga memberikan 14.500 poin bagi sang juara. Ini merupakan angka tertinggi kedua setelah medali emas Olimpiade. Poin ini sangat penting dalam menjaga atau meningkatkan posisi pemain dalam ranking dunia BWF, yang berpengaruh langsung pada posisi unggulan di turnamen lain.
Tak hanya itu, gelar juara dunia juga membawa pengaruh besar terhadap karier atlet. Tak hanya dari sisi popularitas, tatapi juga kesempatan sponsor, maupun penghargaan dari negara masing-masing.
Indonesia sendiri bukan pendatang baru di Kejuaraan Dunia. Bahkan, sejak edisi pertama, atlet-atlet Indonesia telah menjadi pilar kekuatan dunia. Nama-nama seperti Rudy Hartono hingga Hendra Setiawan / Mohammad Ahsan telah mempersembahkan medali emas dan menorehkan sejarah di ajang ini.
Kini, generasi penerus seperti Jonatan Christie, Gregoria Mariska Tunjung, dan pasangan ganda seperti Fajar/Rian serta Leo/Bagas, siap menambah daftar panjang legenda bulutangkis Indonesia.

